Photo by Markus Winkler on Unsplash

 

Februari, Sebuah Permulaan  – hari keduapuluhtujuh

 

Akhirnya, aku kembali menginjakkan kaki di Jakarta. Selama hampir 16 jam perjalanan Brisbane menuju Jakarta, aku telah memikirkan banyak hal yang harus kulakukan setiba di Jakarta. Aku tak sabar melihat Rey, suamiku, dan Ayra, putriku yang berusia 6 tahun. Dua tahun kami hanya berjumpa di layar. Kembali bersama mereka adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Hal pertama yang kulakukan saat bertemu mereka yang telah menunggu di pintu kedatangan adalah memeluk keduanya. Awalnya, aku mengira Ayra sudah tertidur selama menungguku, tapi rupanya ia belum tidur. Bahkan tidak terlihat mengantuk, menggenggam gawai.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, perhatian Ayra sepenuhnya tertuju pada gawai. Ia tak begitu antusias setiap kali aku bertanya mengenai kesehariannya. Hal itu bertahan hingga keesokan hari. Ketika aku membangunkan Ayra, yang ia tanyakan pertama kali adalah “Dimana hape Ayra?”. Aku cukup terkejut mendengarnya. Terakhir aku berpisah dengannya, ia belum mengerti cara menggunakan benda itu. Setiap kali ia ingin menonton kartun favoritnya, ia memintanya padaku dan kami menonton bersama. Rupanya, dua tahun bukan waktu yang singkat dan banyak hal yang berubah. Ayra bukan lagi gadis kecil yang menanyakan hal-hal lucu dan menggemaskan. Ia telah tumbuh menjadi apa yang ia lihat di layar gawainya.

Aku mengajaknya mandi terlebih dahulu sebelum ia mendapat gawai dan ia setuju. Selesai mandi, ia kembali meminta ponselnya, dan aku minta ia sarapan terlebih dahulu. Di meja makan, ia tak bercerita banyak hal, kecuali aktivitasnya bersama gawai. Bukan cerita yang kuharapkan dari anak usia 6 tahun.

“Sekolah Ayra gimana?” tanyaku, mencari celah untuk memotong ceritanya bersama gawai.

“Nggak menarik, Bu. Enakan di rumah, mainan hape,” jawabnya.

Aku menoleh pada suamiku. “Mas, kita perlu bicara,” pintaku.

Kami masuk kamar dan aku menyatakan keberatan mengenai Ayra yang bertumbuh terlalu cepat bersama gawai.

“Mau bagaimana lagi? Dia terus merengek mengajakku bermain, sedangkan aku nggak punya waktu untuk itu,” dalihnya.

“Pekerjaanmu kan nggak harus setiap hari setiap jam setiap detik. Kamu bisa memberi waktu dia bermain barang sebentar, nggak melulu pegang hape,” pungkasku.

“Gimana dia nggak melulu cari hape kalau setiap kangen kamu, aku harus kasih dia hape buat telepon kamu? Coba kamu pikir itu!”

Kami berdebat cukup panjang. Mengenai keputusanku melanjutkan studi ke luar negeri yang membuatnya harus mengurus Ayra seorang diri. Mengenai bantahanku bahwa ia bisa meminta bantuan Ibu ke rumah untuk mengurus Ayra, yang ia bantah hanya akan membuatnya serba salah setiap hari. Perdebatan itu tak kunjung usai, sampai kami memutuskan untuk menawarkan aktivitas lain tanpa gawai.

Kami mengajak Ayra berbelanja mainan jadul. Mainan tradisional yang biasa dimainkan di zaman aku dan Rey saat kecil. Ayra banyak bertanya mengenai cara bermain permainan-permainan yang dipajang di toko. Kami menjawab dengan senang hati. Meski ia tak terlalu antusias, ia membawa pulang congklak, boneka kertas, gundu, kartu kwartet, bekel dan ular tangga.

Sehari itu, kami bermain bersama dan Ayra sempat lupa mengenai ponselnya. Ia kembali minta gawai di malam hari, sebelum tidur. Sesekali aku masih mengiyakan, khawatir ia mengamuk dan tidak mau tidur. Hari-hari berikutnya, aku memperkenalkan permainan-permainan tradisional dan mengajaknya beraktivitas dengan buku untuk secara bertahap membuatnya melupakan gawai. Aku juga sesekali mengajaknya bermain di luar ruang, seperti taman dan danau.

Banyak hal telah kulakukan untuk membuatnya lupa akan gawai, tapi ia masih saja meminta gawainya. Nampaknya, ini bukan mudah dan akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

 

==

Tulisan lainnya dalam kompilasi bertajuk “Februari, Sebuah Permulaan”
Latar belakang : Februari, Sebuah Permulaan
Hari pertama : Mendamba Motivasi
Hari kedua : Loncatan Spiritual Seekor Katak
Hari ketiga : Eksklusivisme Agama dan Pemikiran
Hari keempat : Meniadakan Kehilangan
Hari kelima : Sepragmatis Orang-orang Tua
Hari keenam : Keluarga yang Tak Sempurna
Hari ketujuh : Orang yang Berharga
Hari kedelapan : Berkontribusi
Hari kesembilan : Terdera Kebermanfaatan
Hari kesepuluh : Redup dan Padam
Hari kesebelas : Anggrek Terakhir Ayah
Hari keduabelas : Habiskan Makananmu, Nak!
Hari ketigabelas : Surat dari Kota Pelangi
Hari keempatbelas : Formasi Harapan Batu Sungai
Hari kelimabelas : Biru Mengudara di Langit Jakarta
Hari keenambelas : Kicau Semangat Burung Pipit
Hari ketujuhbelas : Air Laut, Menyurut, Memaksa Pasang
Hari kedelapanbelas : Bu, Aku Ingin Melaju di Lantai Basah
Hari kesembilanbelas : Berpendidikan, Berproses, Berguna
Hari keduapuluh : Mengokok Lolongan
Hari keduapuluhsatu : Menjelma Oksigen
Hari keduapuluhdua : Diam, Tidak Diam
Hari keduapuluhtiga : Fey, Peri Negeri Angan
Hari keduapuluhempat : Arogansi Sepasang Manusia
Hari keduapuluhlima : Mabuk
Hari keduapuluhenam : Cinta