Photo by Jakob Owens on Unsplash

 

Februari, Sebuah Permulaan  – hari ketujuhbelas

Kau, layaknya air laut yang memaksa pasang
mengapung dalam riuh senyap
terarus oleh pengawangan
menjadi gelombang
berlari riang ke tepian
menghantam kehidupan
pecah dalam kemenangan
terhempas, tergetar lagi, dan kembali lepas

 

Kau, layaknya bulan
menuntut air laut yang sedang rebah
dalam samudra yang centang merentang
beradu dengan dunia, memenangkan pasang
sedang yang lain inginkan padam

 

Kau, layaknya bumi yang mengirap,
dalam semesta yang semakin memekar
yang menahan, tak rela melesap
yang meredam, meski tak tega diam
memaksa pasang, meski berujung padam

 

Kau, dalam lamunan
yang terpisah, tanpa tarikan
tanpa perlu menjadi ada

 

==

Tulisan lainnya dalam kompilasi bertajuk “Februari, Sebuah Permulaan”
Latar belakang : Februari, Sebuah Permulaan
Hari pertama : Mendamba Motivasi
Hari kedua : Loncatan Spiritual Seekor Katak
Hari ketiga : Eksklusivisme Agama dan Pemikiran
Hari keempat : Meniadakan Kehilangan
Hari kelima : Sepragmatis Orang-orang Tua
Hari keenam : Keluarga yang Tak Sempurna
Hari ketujuh : Orang yang Berharga
Hari kedelapan : Berkontribusi
Hari kesembilan : Terdera Kebermanfaatan
Hari kesepuluh : Redup dan Padam
Hari kesebelas : Anggrek Terakhir Ayah
Hari keduabelas : Habiskan Makananmu, Nak!
Hari ketigabelas : Surat dari Kota Pelangi
Hari keempatbelas : Formasi Harapan Batu Sungai
Hari kelimabelas : Biru Mengudara di Langit Jakarta
Hari keenambelas : Kicau Semangat Burung Pipit