Photo by Muhammad Syafi Al – adam on Unsplash
Februari, Sebuah Permulaan – hari kelimabelas
Pagi ini, semua terasa normal. Bangun jam empat, mandi, menyiapkan bekal, dan bergegas ke Stasiun Bekasi. Lalu transit di Stasiun Manggarai untuk berpindah peron yang mengantarku turun di Stasiun Sudirman. Menyusuri terowongan Kendal Dukuh Atas yang tak pernah membuatku bosan, terlebih di malam hari, lalu menuruni tangga menuju Stasiun MRT Dukuh Atas yang akan mengantarku ke Stasiun Fatmawati. Selalu begini. Tak ada yang berbeda hingga aku menengadah langit Fatmawati. Ada yang aneh, yang tak bisa langsung kupastikan apa. Jalanan Fatmawati di kala pagi yang tak pernah sepi dari gerutuan motor yang memaksa diberi jalan itu sama sekali tak membantuku menemukan jawaban dari keanehan langitnya.
Aku melanjutkan jalanku saat menyadari tak punya waktu banyak untuk sampai di kantor.
Setiba di kantor, Sinta sudah teronggok di meja kerjanya bersama styrofoam, yang kupastikan sudah tak berisi bubur.
“Kenapa lo? Kekenyangan bubur? Lemah juga perut lo, ya,” kataku sambil meletakkan pantat di kursi putarku, kursi yang semasa kecil pernah kuimpikan. Aku ingin bekerja di kursi seperti itu, Ma, pintaku pada Mama saat ikut menonton drama kesukaannya.
“Langit cerah nih. Lo nggak lihat? Nggak sia-sia kan gue naik sepeda tiap weekend,” jawab Sinta sambil melempar styrofoam sisa sarapannya ke tong sampah, ogah-ogahan.
Aku mendengus. “Satu, langit di luar nggak ada hubungannya sama lo yang teronggok nggak berdaya bak sampah TPU yang pasrah mau diolah, ditimbun lagi dengan sampah baru, atau dicuekin gitu aja. Dua, hobi baru lo sepedaan tiap Sabtu dan Minggu itu nggak ngaruh apa pun sama lingkungan, kecuali emang lo jadi lebih sehat.”
“Kata siapa nggak ngaruh?” Perempuan berambut pendek yang punya lesung pipit di pipi kirinya itu menarik kursinya mendekat ke mejaku. “Lo nggak sadar ya, langit pagi Jakarta tuh udah kayak Puncak, berkabut. Kayak mendung tapi nggak hujan-hujan. Gue masih sering nyaru sampai sekarang. Nah, gue mengurangi polusi udara dengan bersepeda. Lihat tuh, langitnya cerah kan setelah gue naik sepeda.”
Aku mengikuti mata Sinta yang mengarah ke langit melalui jendela di sebelah mejaku. Aku baru sadar. Inilah keanehan yang tak bisa ketemukan di Stasiun Fatmawati tadi. Langit Jakarta yang cerah. Biru yang merdu. Menyerukan semangat yang lembut tapi kokoh. Aku sudah lupa warna langit yang seharusnya. Otakku seakan menghapus warna biru di langit pagi Jakarta, hingga tak bisa kusadari secepat itu bahwa ia berubah.
“Gue naik kendaraan umum setiap hari, pulang-pergi. Tapi gue nggak pernah mengklaim bahwa gue membawa perubahan pada lingkungan, apalagi langit. Nah, lo yang masih naik mobil pulang-pergi kantor, trus naik sepeda dua kali seminggu cuma buat hobi ngikutin tren, mengklaim bahwa lo mengurangi polusi udara dan membuat langit pagi di Jakarta jadi biru?” tanyaku agak kesal. “Halu! Lo kebanyakan sarapan bubur. Jadi encer itu otak, sampai mengalir semua lewat kencing, nggak ada nyisa di kepala.”
“Gue pernah lihat lo naik sepeda di Thamrin bareng Riki, anak Divisi Marketing, Sin,” ucap Tiara ikut-ikutan.
“Iya, itu dia lagi pedekate sama gue.” Sinta menjawab dengan bangga.
“Bodo amat lo pedekate sama siapa. Mau pedekate, mau enggak, lo kalau naik sepeda tetap ikuti rambu dong. Kan udah ada jalur hijaunya. Masih aja nyomot jalur kendaraan bermotor. Nyawa disayang, jangan dilelang.”
“Sepeda motor juga sering nyomot jalur sepeda sama jalur busway. Giliran sepeda yang nyomot, disewotin. Lagian kalau bukan karena pengendara sepeda kayak gue dan biker yang lain, polusi di Jakarta bisa makin kacau.”
“Kalau orang lain mengambil hak lo, bukan berarti lo juga harus mengambil hak orang lain. Nggak semua pengendara yang lo langgar haknya itu pelanggar hak lo juga, Sin,” jawab Tiara.
“Selagi sepeda lo itu masih lo bawa di ranah hobi, it doesn’t make any change to our environment, but your pride.”
==
Tulisan lainnya dalam kompilasi bertajuk “Februari, Sebuah Permulaan”
Latar belakang : Februari, Sebuah Permulaan
Hari pertama : Mendamba Motivasi
Hari kedua : Loncatan Spiritual Seekor Katak
Hari ketiga : Eksklusivisme Agama dan Pemikiran
Hari keempat : Meniadakan Kehilangan
Hari kelima : Sepragmatis Orang-orang Tua
Hari keenam : Keluarga yang Tak Sempurna
Hari ketujuh : Orang yang Berharga
Hari kedelapan : Berkontribusi
Hari kesembilan : Terdera Kebermanfaatan
Hari kesepuluh : Redup dan Padam
Hari kesebelas : Anggrek Terakhir Ayah
Hari keduabelas : Habiskan Makananmu, Nak!
Hari ketigabelas : Surat dari Kota Pelangi
Hari keempatbelas : Formasi Harapan Batu Sungai



