Photo by rikkia hughes on Unsplash

 

Februari, Sebuah Permulaan  – hari keduapuluhlima

Kupikir, frasa mabuk cinta hanya bualan manusia mengotak-atik kata demi kata dan menyandingkannya serampangan. Tapi, selanjutnya aku sadar, manusia tak sebodoh itu. Mabuk yang disandingkan bersama cinta memang padu-padan kata yang sangat tepat setelah aku membaca surat ini, surat yang kutemukan di sudut bangsal rumah sakit tempatku bekerja.

Aku bukan orang biasa sebelum bertemu denganmu. Pertemuan kita di sebuah bar lima tahun lalu meninggalkan efek yang juga tidak biasa. Kita hanya minum beberapa gelas, bukan? Seteguk, dua teguk, yang kuingat, tapi kaukatakan itu lima. Kau selalu mengejekku, yang mabuk setelah gelas kedua. Aku tak biasanya begitu. Aku manusia yang tidak biasa dikalahkan, oleh alkohol sekalipun. Terlebih di depanmu, seorang laki-laki. Yang kurasakan saat itu adalah sebuah ketenangan, layaknya tegukan pertama dan kedua. Rasa itu seakan bertahan selamanya, bahkan setelah kita pergi dari sana, dan tak kembali lagi sampai kapan pun.

Tenang. Itu yang kurasakan saat bersamamu. Yang membuatku ingin memahamimu lebih dalam. Banyak hal berlalu dengan ketenangan yang sama hingga aku rasanya sedang terbang tinggi sekali bersamamu. Menjelajahi angkasa, ditemani macam-macam burung perkutut. Kau tahu kan, burung perkutut? Ia melambangkan kejayaan, kebesaran, dan itu bersamamu.

Burung-burung itu nampaknya semakin banyak dan mulai mengacaukan pandangan. Aku mulai menabraki awan, dan beberapa kali menerabas hujan, hingga terpelanting oleh badai. Aku seorang yang penuh perhitungan dan hal-hal ceroboh semacam itu tak mungkin terjadi padaku. Burung perkutut ini membuatku lengah. Dan yang kuingat, kau hanya diam saja.

Tapi kau kemudian menjalar ke seluruh aliran pembuluh darahku.  Seperti alkohol yang bersekongkol menggerogoti hati dan mulai merambah ke otak. Segalanya makin kabur dan menghitam. Alkohol dari pertemuan itu sudah mulai beraksi. Aku mabuk, entah karena kamu atau burung perkutut sialan itu. Ia mengganas hingga aku tak kuasa berdiri untuk sekadar menopang tubuhku sendiri. Meronta bukanlah diriku. Tapi yang terjadi adalah aku meronta di hadapanmu, mengais-ngais kehadiranmu untuk mengembalikan kesadaranku.

“Jenis alkohol apa yang kau masukkan dalam tubuhku, yang baru membuatku mabuk setelah sekian lama?” tanyaku.

Dan kau hanya diam. Menikmati ketidakberdayaanku, dan membiarkanku semakin lemah, hingga akhirnya koma dan menunggu mati.

Surat ini kutebak ditulis pasien yang beberapa jam dibawa dari ruangan ini menuju IGD. Kurang lebih setahun ia koma dan dirawat di ruangan ini. Setelah beberapa jam dibawa ke IGD, aku ditugaskan membersihkan kamar untuk diganti pasien lain. Mungkin memang lebih baik ia mati, batinku saat mendengar kematian implisit itu.

Selama setahun dirawat di sini, dokter tak menemukan penyakit apa pun. Tapi dokter menemukan kadar alkohol dalam darahnya, meski sempat ditampik olehnya.

“Saya sudah tidak minum alkohol. Tidak mungkin alkohol yang saya minum beberapa tahun lalu bertahan dalam darah sebegitu lamanya,” tampiknya, sebelum ia koma.

Seberapa benar ucapannya itu, tak ada yang bisa memastikan. Yang dapat dipastikan adalah dokter menemukan kadar alkohol yang sama setelah ia dirawat beberapa bulan di sini, dan kupastikan tak ada alkohol yang lolos masuk ke ruangannya tanpa sepengetahuanku. Hingga ia dikabarkan mati, kadar alkohol itu tidak berkurang sedikit pun, dan tak menghilangkan sedikit pun rasa penasaran akan kejanggalan itu.

Dan surat yang kutemukan di sudut bangsal itu seakan menjawab semuanya.

 

Tulisan lainnya dalam kompilasi bertajuk “Februari, Sebuah Permulaan”
Latar belakang : Februari, Sebuah Permulaan
Hari pertama : Mendamba Motivasi
Hari kedua : Loncatan Spiritual Seekor Katak
Hari ketiga : Eksklusivisme Agama dan Pemikiran
Hari keempat : Meniadakan Kehilangan
Hari kelima : Sepragmatis Orang-orang Tua
Hari keenam : Keluarga yang Tak Sempurna
Hari ketujuh : Orang yang Berharga
Hari kedelapan : Berkontribusi
Hari kesembilan : Terdera Kebermanfaatan
Hari kesepuluh : Redup dan Padam
Hari kesebelas : Anggrek Terakhir Ayah
Hari keduabelas : Habiskan Makananmu, Nak!
Hari ketigabelas : Surat dari Kota Pelangi
Hari keempatbelas : Formasi Harapan Batu Sungai
Hari kelimabelas : Biru Mengudara di Langit Jakarta
Hari keenambelas : Kicau Semangat Burung Pipit
Hari ketujuhbelas : Air Laut, Menyurut, Memaksa Pasang
Hari kedelapanbelas : Bu, Aku Ingin Melaju di Lantai Basah
Hari kesembilanbelas : Berpendidikan, Berproses, Berguna
Hari keduapuluh : Mengokok Lolongan
Hari keduapuluhsatu : Menjelma Oksigen
Hari keduapuluhdua : Diam, Tidak Diam
Hari keduapulyhtiga : Fey, Peri Negeri Angan
Hari keduapuluhempat : Arogansi Sepasang Manusia