Photo by Anthony Tran on Unsplash

 

Februari, Sebuah Permulaan  – Hari Keduapuluhtiga

 

Fey, seorang peri yang hidup di negeri angan sedang menjalankan tugasnya: bekeliling mencari manusia yang sedang berangan. Ia menyerap angan-angan manusia dan menyimpannya dalam sayapnya yang cantik. Sayapnya hijau menggurat seperti daun muda yang terkena matahari. Semakin banyak angan tersimpan di dalamnya, guratan hijaunya semakin berkilauan.

Hari ini ia terbang ke pusat kota, tempat segala angan berkumpul. Melewati gedung-gedung tinggi dan beberapa kali membelai manusia yang berkeliaran di pinggiran jalan. Manusia yang sedang berjalan pasti membawa angan. Belaian satu dua angan manusia yang sedang berjalan tak berpengaruh banyak pada kilau sayapnya. Angan manusia saat berjalan biasanya hanya sebuah angan sekali lewat, tanpa hasrat yang kuat. Semakin lemah hasrat manusia dalam berangan, semakin lemah pula energi yang mampu ditangkap peri angan seperti Fey.

Ia berhenti di depan kedai kopi di bangunan lantai lima sebuah mall. Melalui kaca jendela, ia dapat melihat seorang pria berkemeja kotak yang sendiri menyesap kopi. Melihat caranya menyesap, nampaknya pria itu tak begitu berselera.

Kedai kopi itu ramai dengan muda-mudi yang sedang mengobrol dan asyik bercanda. Keramaian adalah pusat angan bermula, sedang kesendirian adalah kaki tangan angan yang tak pernah berkhianat. Seorang pria yang sendiri di tengah keramaian pastilah memiliki angan dengan hasrat yang kuat.

Fey terbang menghampiri pria itu, menembus kaca, dan membelai angan lemah manusia yang dilewatinya. Ia lalu singgah di atas buku bersampul biru muda di hadapan pria itu. Tepat di sisi tulisan ‘Arka’ yang ditulis tegak bersambung dengan amat indah.

Diamatinya pria bernama Arka ini. Wajah Arka mengguratkan sebuah penantian, yang semakin lama tak mengeluarkan hasrat angan. Kosong. Arka menanti dalam kekosongan. Tak ada yang terjadi kecuali Arka yang memandang gelas kopi sampai benar-benar habis isinya. Kemudian Arka pergi, meninggalkan buku yang sedang diduduki Fey.

Fey penasaran dengan Arka. Ia terbang, bermaksud menyusul. Urung karena kemudian ada seorang perempuan duduk di tempat yang tadinya diduduki Arka. Mengambil buku bersampul biru dan membukanya pada lembar dengan pembatas.

“Lancang sekali dia,” kata Fey, terbang mendekat.

Perempuan itu membaca dengan mata berkaca-kaca.

“Kalian saling kenal?” tanya Fey, yang tak mungkin bisa didengar manusia.

 

Bila tulisan ini akhirnya kamu baca, maka kamu telah memilih mengakhiri. Aku sepenuhnya menghormati keputusan itu. Kuserahkan semua anganku di sini, untuk kau bawa pergi. Sejak hari pertama menunggumu di tempat ini, aku menuliskan satu per satu harapan yang ingin kuwujudkan bersamamu. Hingga hari keseratus, aku tlah kehilangan harapan, hanya tersisa penantian. Katamu, aku bisa mencatat segala anganku di sini. Tapi aku tak bisa hanya hidup dengan berangan tanpa pernah mewujudkan. Kini, kukembalikan buku ini padamu. Angan yang selama ini kutulis sudah tidak berarti tanpa sebuah jawaban. Penantianku juga telah kuakhiri pada lembar ini.

 

Sayap Fey berkilau, menangkap energi angan yang kecil namun berhasrat sangat kuat. Perempuan ini akan membaca seluruh angan yang tertulis di sana dengan hasrat yang menggebu, dan bahkan berlebihan. Fey memutuskan mengikuti perempuan ini sampai semua hasrat itu. Yang Fey tahu, hasrat yang berlebihan hanya akan memunculkan dua kemungkinan: mati atau tak hidup.

 

==

Tulisan lainnya dalam kompilasi bertajuk “Februari, Sebuah Permulaan”
Latar belakang : Februari, Sebuah Permulaan
Hari pertama : Mendamba Motivasi
Hari kedua : Loncatan Spiritual Seekor Katak
Hari ketiga : Eksklusivisme Agama dan Pemikiran
Hari keempat : Meniadakan Kehilangan
Hari kelima : Sepragmatis Orang-orang Tua
Hari keenam : Keluarga yang Tak Sempurna
Hari ketujuh : Orang yang Berharga
Hari kedelapan : Berkontribusi
Hari kesembilan : Terdera Kebermanfaatan
Hari kesepuluh : Redup dan Padam
Hari kesebelas : Anggrek Terakhir Ayah
Hari keduabelas : Habiskan Makananmu, Nak!
Hari ketigabelas : Surat dari Kota Pelangi
Hari keempatbelas : Formasi Harapan Batu Sungai
Hari kelimabelas : Biru Mengudara di Langit Jakarta
Hari keenambelas : Kicau Semangat Burung Pipit
Hari ketujuhbelas : Air Laut, Menyurut, Memaksa Pasang
Hari kedelapanbelas : Bu, Aku Ingin Melaju di Lantai Basah
Hari kesembilanbelas : Berpendidikan, Berproses, Berguna
Hari keduapuluh : Mengokok Lolongan
Hari keduapuluhsatu : Menjelma Oksigen
Hari keduapuluhdua : Diam, Tidak Diam