Februari, Sebuah Permulaan – hari kedelapanbelas
Sabtu, 31 Desember 2022
Untuk Ibuku, Sang Ensiklopedia yang Hidup
Bu, aku sengaja menulis surat. Mungkin kau akan mengejekku kuno di usia muda. Tapi, tak apa. Kuno hanya menunggu waktu untuk menjadi antik. Kau pasti menertawakan ini. Merasa tak mungkin aku menjadi antik, bahkan sebelum aku mampu melewati usiamu. Dan sekarang kau pasti kesal, ingin menyudahi saja suratku yang bertele-tele ini. Tapi, bu, rupanya bertele-tele adalah milik semua manusia (sepertinya).
Baik. Kau pasti sudah mulai kesal. Jadi, begini:
Aku teringat pesanmu: Jangan berjalan di lantai yang basah!, yang kau ucapkan saat kita sedang bersih-bersih rumah, menyambut Kang Rendy beserta keluarganya, menjelang lebaran. Aku tak ingin menyangkal pesanmu. Aku masih meyakininya sebagai kebenaran. Tapi, bu..
Bagaimana jika seluruh lantainya basah?
Haruskah aku berdiam diri saja menunggunya kering?
Bagaimana jika Kang Rendy mengalami kecelakaan dalam perjalannya pulang,
sedangkan aku masih harus menunggu lantainya kering?
Tidakkah aku egois, bu?
Atau, bolehkah aku berjalan, seperti yang lain?
Salam hangat,
Putrimu yang menanti jawaban
dalam sebuah pencarian
==
Tulisan lainnya dalam kompilasi bertajuk “Februari, Sebuah Permulaan”
Latar belakang : Februari, Sebuah Permulaan
Hari pertama : Mendamba Motivasi
Hari kedua : Loncatan Spiritual Seekor Katak
Hari ketiga : Eksklusivisme Agama dan Pemikiran
Hari keempat : Meniadakan Kehilangan
Hari kelima : Sepragmatis Orang-orang Tua
Hari keenam : Keluarga yang Tak Sempurna
Hari ketujuh : Orang yang Berharga
Hari kedelapan : Berkontribusi
Hari kesembilan : Terdera Kebermanfaatan
Hari kesepuluh : Redup dan Padam
Hari kesebelas : Anggrek Terakhir Ayah
Hari keduabelas : Habiskan Makananmu, Nak!
Hari ketigabelas : Surat dari Kota Pelangi
Hari keempatbelas : Formasi Harapan Batu Sungai
Hari kelimabelas : Biru Mengudara di Langit Jakarta
Hari keenambelas : Kicau Semangat Burung Pipit
Hari ketujuhbelas : Air Laut, Menyurut, Memaksa Pasang



