Photo by Delyn Stirewalt on Unsplash
Februari, Sebuah Permulaan – hari keempatbelas
Ting.
Reva terhenyak mendapati notifikasi dari galeri pintar ponselnya. Halo, Reva. Kamu pernah membidik momen di sini, tujuh tahun lalu. Klik. Muncul gambar tumpukan batu di sebuah sungai. Tak butuh waktu lama untuk menyadari. Itu adalah batu yang ia tumpuk bersama Vanya, sahabatnya, saat liburan sekolah di Bandung.
Batu pertama dari Vanya untuk persahabatan mereka. Batu kedua dari Reva untuk kelulusan sekolah menengah dan masuk perguruan tinggi impian. Batu ketiga dari Vanya untuk kebahagiaan. Batu keempat dari Reva untuk segala mimpi yang dicita-citakan. Batu kelima dari Vanya untuk mencapai ketenangan jiwa. Seharusnya, ada batu keenam dari Reva untuk sebuah kebebasan, tapi berkali-kali jatuh dan mereka memutuskan mengabadikan kelima batu itu saja.
Reva tersenyum mengingat momen itu dan baru tersadar, ia telah lama sekali tidak bersua dengan Vanya. Setelah mereka lulus, Reva kuliah di Jakarta dan Vanya di Padang. Pertemuan terakhir mereka adalah ketika Vanya mengantar Reva ke bandara. Vanya menghadiahi sebuah buku catatan bersampul jingga, warna kesukaan Reva, dan satu lagi berwarna abu.
“Katanya, kehidupan Jakarta mudah terlupakan karena segalanya berjalan amat cepat. Catat momen-momen indahmu di buku jingga ini. Jangan biarkan terlewat begitu saja,” katanya sambil menunjuk buku jingga. Ia melanjutkan dengan menunjuk buku abu, “Yang ini untuk mencatat keresahanmu. Jangan biarkan hidup menelanmu. Luapkan segalanya di sini.”
“Aku belum menyiapkan sesuatu untukmu,” jawab Reva malu yang sedetik kemudian berkata, “Kabari aku kalau kamu sudah tiba di Padang. Akan kukirimi kau hadiah.”
Vanya tersenyum dan mengangkat kedua jempolnya.
Beberapa minggu kemudian, Reva mendapat kabar Vanya sudah ada di Padang. Ia kemudian pergi ke toko buku dan membeli beberapa buku gambar besar beserta perlengkapan menggambar, kotak kado dan selembar kartu ucapan, lalu ia bungkus. Tak lupa ia sematkan kartu ucapan di dalamnya.
Teruntuk Vanya,
Aku tahu, kamu pergi ke Padang untuk mencari sesuatu yang memukau. Tak hanya fisik, namun juga nuansanya. Aku pernah tak sengaja melihat gambarmu di laci meja belajarmu, dan itu sangat cantik. Aku tak tahu kenapa kamu masih memendam bakatmu itu. Mulai sekarang, lukis segala yang kau rasa memukau. Kelak, aku ingin melihat gambar-gambar itu, saat kita bertemu.
Salam hangat dari yang selalu mengingatmu,
Reva
Sampai sekarang, harapan itu belum juga tercapai. Mereka belum pernah bertemu lagi.
Reva membuka media sosialnya. Mengetik Vanya Trissia di kotak pencarian. Tak sulit menemukannya. Vanya masih sahabatnya yang dulu, yang menyukai kesederhanaan. Hanya akun bernama vanyatrissia, tanpa karakter tambahan. Ia cukup kaget melihat sorotan yang menampilkan Vanya bersama seorang lelaki tampan dan gadis kecil yang ia tebak berusia tak lebih dari dua tahun. Bagaimana mungkin Vanya menikah tanpa memberitahuku?, batinnya.
Reva mengklik direct message dan memulai percakapan dengan sapaan basa-basi. Ia menahan protes mengenai pernikahan Vanya yang tidak ia ketahui. Begitu ia mendapat nomor ponsel Vanya, ia langsung melayangkan protes itu.
“Parah deh. Kamu nggak ngabarin aku pas nikah.”
“Aku udah nyoba ngabarin kamu, Va. Aku telpon, kamu nggak angkat. Aku kirim pesan teks, nggak ada balasan. Aku sempat ke kos kamu juga di Jakarta dan kamu nggak ada di kos. Jadi, aku masukin undangan dari celah bawah pintu.”
Reva memutar kembali ingatannya dua tahun lalu. Waktu dimana ia menghabiskan harinya di perpustakaan demi menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, dan tenggelam dalam pekerjaan paruh waktunya bersama artikel-artikel di malam hari. Ia tak ingat ada pesan masuk dari Vanya. Ia sering membersihkan pesan dari nomor-nomor tak dikenal tanpa terpikir untuk membacanya terlebih dahulu. Panggilan dari nomor tak dikenal sering ia abaikan. Beberapa kali, ia harus ke luar kota untuk melakukan riset terkait artikel yang akan ditulis.
“Aku nggak pernah lihat undangan yang kamu masukin ke kamar kosku,” ucap Reva, sambil masih mengingat-ingat.
“Yaudah, nggak papa. Aku tahu kamu nggak sengaja,” jawab Vanya kemudian. Masih Vanya yang sama, yang mudah sekali berpikiran positif. “Aku kirimi beberapa gambarku tentang betapa memukaunya Padang.”
Reva menerima notifikasi pesan gambar. Gambar yang cantik yang membuat Reva ingin pergi ke sana, menyaksikan sendiri keindahan Danau Maninjau dan eloknya Masjid Tuo Kayu Jao.
“Aku ingin melihat gambarmu secara langsung. Besok aku ke Padang ya. Aku ingin menceritakan isi buku jingga dan abu darimu.”
==
Tulisan lainnya dalam kompilasi bertajuk “Februari, Sebuah Permulaan”
Latar belakang : Februari, Sebuah Permulaan
Hari pertama : Mendamba Motivasi
Hari kedua : Loncatan Spiritual Seekor Katak
Hari ketiga : Eksklusivisme Agama dan Pemikiran
Hari keempat : Meniadakan Kehilangan
Hari kelima : Sepragmatis Orang-orang Tua
Hari keenam : Keluarga yang Tak Sempurna
Hari ketujuh : Orang yang Berharga
Hari kedelapan : Berkontribusi
Hari kesembilan : Terdera Kebermanfaatan
Hari kesepuluh : Redup dan Padam
Hari kesebelas : Anggrek Terakhir Ayah
Hari keduabelas : Habiskan Makananmu, Nak!
Hari ketigabelas : Surat dari Kota Pelangi



