Photo by Chris Leipelt on Unsplash
bila ku katakan ini sebagai sebuah kenangan kelam,
kau pasti tak akan percaya
yang kau tahu saat itu hanya sebuah pencapaian besar
sebuah kehormatan yang bagimu lebih dari segalanya
tanpa peduli betapa batinku terengah-engah karena lelah
kau bisa menyangkal dengan berkata,
“kau bahkan tertawa kala itu,
bersenang-senang tak kenal lelah”
tapi coba kau ingat kembali
pikir lagi dengan otak yang kau banggakan itu
apa kau yakin aku benar-benar tertawa?
bisa kau bayangkan,
bagaimana jadinya aku bila memilih tuk tidak tertawa?
menangis misalnya
atau merengek memohon belas asih
apa kau yakin mereka akan berhenti?
tentu tidak, sudah pasti tidak
mereka akan terus menggerus sampai puas
dan aku hanya akan menelannya untuk diriku sendiri
dan tahukah kau,
itu sangat melelahkan
untuk itu,
aku di sini untuk berhenti
berhenti tertawa di tengah luka
berhenti menelan segala rasa
dan berhenti memaksa seolah tak apa
sudah, tak perlu lagi kau urusi aku
biarkan aku dengan asaku yang baru
kelamnya kala itu tak akan membuatku legam
asaku datang tuk membuatku menyala
bukan hanya di tengah gulita
tapi juga di tengah cahaya



