Photo by Marcel Eberle on Unsplash

Agustus, Memaknai Merdeka (12)

Saya ingin bersuka cita merayakan tulisan saya yang ke-seratus. Hanya celoteh, yang mungkin tak menarik bagi siapa pun. Tanpa bantuan KBBI, sinonim kata, maupun daftar kata serupa.

Butuh tiga tahun untuk dapat mencapai angka seratus. Hiruk Pikuk Kata dimulai sejak Juni 2020, di saat setiap kota dilanda gemuruh virus yang kian mengganas. Setiap lini akses ditutup dan membuat manusia mendekam di rumah. Mungkin banyak dari kami berbahagia, seakan rumah adalah tempat idaman menghabiskan hidup di dunia. Pada awalnya memang begitu. Tapi, lama kelamaan kami bosan.

Rasa bosan itulah yang melahirkan Hiruk Pikuk Kata. Saya punya banyak sekali hal yang ingin diluapkan. Tapi, nampaknya saya tidak mampu mempercayai orang lain untuk sekadar meluapkan kata. Ini sama seperti tidak mempercayai diri sendiri dalam memilih apa dan siapa. Maka, blog ini akan menjadi media yang menarik untuk menumpahkan apa saja yang membuncah di kepala. Itulah kenapa saya sematkan tagline Saat Kata Terbebas Dari Belenggu. Saya ingin membebaskan kata-kata yang membelenggu kepala saya. Setiap kalimat yang saya torehkan di setiap sudut statis adalah cerminan dari ‘luapan kata’ itu sendiri.

Ini adalah ruang membebaskan kata dari belenggu keheningan. Membiarkannya sedikit demi sedikit meluapkan makna yang seringkali memaksa buncah. Memang tak ada artinya membiarkan kata tetap pada titik dikubur dan dibungkam oleh hiruk pikuk, karena setiap kata membawa makna dan memberi cerita penuh warna. Ia tak boleh terlalu lama diendapkan. Ia harus dibiarkan melanglang menemukan maknanya sendiri. Ia harus dihantam kenyataan bahwa makna yang dibawanya tidaklah tunggal.

Setiap tulisan saya merupakan hasil dari proses mendengar, membaca, mengamati, dan merasa. Maka tak heran jika saya seringkali hadir di setiap tulisan. Bukan sebagai tokoh utama. Kadang saya hadir menjadi anak kecil, seekor kucing, atau angin, atau bahkan sekadar menjadi sang pengamat dalam sebuah rangkaian kata. Senada dengan Tentang Kata yang saya sematkan pada tombol +.

Selalu ada kata di setiap peristiwa. Aku di sini untuk setiap carut marut kata yang tak memiliki arti, untuk dirangkai menjadi saksi. Membebaskannya dari belenggu keheningan. Membiarkannya berjalan dengan langkah pasti menuju intensi yang belum tentu mesti.

Saya ini cenderung anget-anget tai ayam. Tahu kan? Itu lho, yang semangatnya hanya di awal, lama kelamaan melempem. Iya, itu saya. Konsistensi saya sulit dijaga. Meski beberapa kali terseok-seok, saya terus menulis. Beberapa kali tertantang untuk mengikuti berbagai project menulis di luaran sana. Tapi selalu gagal. Rupanya, konsistensi itu tak bisa dipaksa dari luar. Saya ambil kesimpulan, bahwa saya yang menentukan saya harus menulis, bukan orang lain. Akhirnya saya menantang diri saya sendiri dengan menulis selama satu bulan penuh. Lalu, lahirlah project bertajuk Februari, Sebuah Permulaan. Terima kasih untuk kalian yang mendukung project ini dengan berbagai kata kunci pemantik imajinasi.

Setelah itu, saya menulis seperti biasa. Hingga akhirnya saya memutuskan pindah dan menyebabkan tulisan saya menjadi berantakan, Saya menempuh perjalanan yang lebih lama dari sebelumnya, dan itu membuat isi kepala saya terpusat pada satu hal: bekerja. Segala kata yang terbelenggu rasanya lenyap saat mata terpejam. Terkubur dengan kata baru yang kembali terbelenggu di keesokan harinya.

Begitu seterusnya, hingga saya merasa kepala saya penuh sekali. Beberapa kali saya luapkan, dan hasilnya tidak begitu memuaskan. Akhirnya, setelah sekian lama, saya paksakan memulai lagi tantangan menulis sebulan penuh. Di bulan Agustus yang semarak dengan perayaan kemerdekaan bangsa, saya ingin turut merayakan dengan Agustus, Memaknai Merdeka. Meski kita sepakat bahwa merdeka berarti bebas dan tidak terikat, saya yakin merdeka memiliki banyak sekali makna yang tak mampu terucap.

Inilah perjalanan saya menyelami diri sendiri. Selama kurang dari satu bulan ke depan, saya akan memaknai merdeka, melalui tulisan yang menjadi bagian dari bentuk kebebasan saya.

 

== Lainnya dari Agustus, Memaknai Merdeka
Merdeka Mendekam
Rapuh
Jika Aku Seorang Bayi
Tawa Lantai Basah
Biaya Pendidikan Rena
Bila Senin Tak Pernah Ada
Senin Pagi Tanpa Kicau Burung Pipit
Menjadi Seorang Idiot
Kami Suka Menjadi Miskin
10 Sepuluh Tahun Lagi
11 Sedikit Ruang Abu