Agustus, Memaknai Merdeka (3)

Kubayangkan diriku menjadi seorang bayi. Di sebuah ruangan penuh canda tawa, aku hanya terdiam. Memandangi Langit-Langit yang menatapku aneh. Langit-langit itu berkata, Tertawalah! Semua orang sedang berbahagia. Aku diam sejenak, memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan jawabanku untuk ia pahami. Lalu kugoyangkan kedua tanganku, Tertawa bukan tanda kebahagiaan. Mereka hanya berpura-pura. Kuharap ia mampu mengartikan jawabanku.

Benar. Ia mampu mengartikannya dengan baik dan bertanya, Bagaimana bisa?

Baiklah, kau menantangku. Aku akan menunjukkannya padamu.

Kemudian, aku menangis. Kencang sekali, hingga tawa yang mengudara tersirap habis tanpa sisa. Mereka panik. Sang Istri yang ‘katanya’ ibuku itu meraih tubuhku ke dalam gendongannya. Sang Suami yang seharusnya juga ‘katanya’ ayahku itu ikut menenangkan. Kakiku diusap-usapnya tanpa henti. Entah kenapa harus kaki yang menjadi objeknya.

Sepasang Suami Istri yang tadi ikut tertawa terlihat tak nyaman. Mereka pun berpamitan pulang.

Selepas mengantarkan Sepasang Suami Istri sampai depan gerbang, Sang Suami yang ‘katanya’ ayahku itu mendekati Sang Istri yang ‘katanya’ ibuku. Ia menghela napas lega.

“Akhirnya mereka pulang juga,” katanya, menyenderkan punggungnya di sofa.

Aku masih menangis dan Sang Suami yang ‘katanya’ ayahku itu tampak tak terganggu. Hanya Sang Istri yang ‘katanya’ ibuku itu yang masih menggendongku meski pandangannya tidak mengarah kepadaku.

Aku lelah dan akhirnya menghentikan tangis. Kemudian aku tersenyum penuh kemenangan kepada Langit-Langit. Lihatlah! Mereka hanya tertawa untuk mengurung bosan. Sebenarnya mereka hanya ingin segera usai, tapi tak punya alasan yang cukup kuat untuk mengakhiri.

Si Langit-Langit mengangguk, mengakui kecerdasanku yang di luar imajinasi seorang bayi. Itulah kenapa kau menangis untuk membantu mereka usai?, tanyanya, yang langsung kujawab dengan menghentakkan kaki penuh semangat, mengiyakan.

“Wah, kamu senang sekali. Kamu terganggu dengan tamu tadi ya? Mereka sudah pulang kok,” kata Sang Istri yang ‘katanya’ ibuku.

Nah, mereka juga suka mengkambing-hitamkan aku atas segala ketidaknyamanan yang mereka rasakan. Padahal merekalah yang merasa tidak nyaman atas banyak hal.

Si Langit-Langit tertawa mendengar pengakuanku.

Beberapa menit kemudian, aku mencium gelagat akan dipaksa tidur. Jadi, aku mengucapkan selamat tinggal kepada Langit-Langit. Sampai jumpa besok. Doakan aku tidak terbangun menjadi mereka yang dewasa dan mengaku hidup bebas bahagia di dalam kerangkeng ketidaknyamanan.

Dan benar. Setelah itu, Sang Istri yang ‘katanya’ ibuku membawaku masuk ke kamar dan menyuruhku tidur dengan sebotol susu.