Aku tak mengerti. Begitu banyak hal yang tak ku mengerti di dunia ini. Terlebih tentang manusia. Tuhan menciptakan manusia terlalu beragam. Satu dengan lainnya tak ada yang persis sama. Aku jadi bingung menyikapinya. Kenapa? Kenapa Tuhan suka sekali membuat kebingungan? Bukankah lebih baik jika manusia diciptakan dalam dua jenis saja? Baik dan buruk. Pada yang baik tentu saja akan ku dekati. Pada yang buruk dengan mudah ku hindari. Tapi tak semudah itu rupanya. Tak ada yang benar-benar baik atau bahkan yang benar-benar buruk. Tak ada yang benar-benar bisa ku dekati. Tak ada juga yang benar-benar bisa ku jauhi. Semua serba abu-abu.

Terlebih tentang temanku yang bernama Renata. Tak ada yang menarik dari penampilan fisiknya. Rambutnya lurus, matanya kecil tapi belum bisa didefinisikan sipit, alis dengan ketebalan berbeda antara kanan dan kiri, hidung tidak mancung juga tidak pesek. Tubuhnya seperti manusia kebanyakan, cukup berisi dengan sedikit lemak di beberapa titik. Sungguh tak ada yang menarik jika dilihat dari penampilan fisiknya. Yang menarik dari gadis ini adalah caranya berbicara. Gaya bicaranya berubah-ubah menyesuaikan dengan siapa ia berbicara. Ia cenderung sopan dan ramah pada orang-orang yang lebih tua darinya. Saat bicara dengan lawan jenis yang relatif sebaya, gaya bicaranya akan berubah lebih cuek. Tidak semua juga sih. Entahlah. Ku bilang juga apa. Dia berbicara dengan gaya berbeda menyesuaikan dengan siapa ia berbicara. Ku lihat ia bisa ngobrol santai dengan Erwin, tapi tidak dengan Kevin. Padahal mereka hanya terpaut usia 2 tahun.

Awal bertemu dengannya, gaya bicaranya denganku cukup ramah dan menyenangkan. Humor receh sering meluncur dari mulutnya. Makin lama makin berubah entah kenapa. Saat aku dan Lala mulai mengeluhkan kelakukan rekan kerja yang tidak cocok di hati kami, dia asyik sendiri dengan ponselnya. “Aku tidak punya masalah dengan mereka,” pungkasnya. Dia mulai diam dan hanya menjawab sesekali. Tapi satu hal yang pasti. Gaya bicaranya tetap tenang. Tak ada nada menghakimi. Tak ada pula yang terlalu melebihkan. Semua yang terlontar dari mulutnya benar adanya. Justru itu yang tak ku suka darinya. Kejujurannya seringkali menyakitkan meski disampaikan dengan gaya yang tenang. Pernah suatu kali aku ditegur olehnya saat sedang mengadu pada Lala tentang perlakuan atasan padaku. Dia justru mengatakan, “kamu menanggapinya berlebihan. Pekerjaan itu tidak berat dan tak akan membuat pekerjaanmu terbengkalai. Toh itu masih dalam tupoksi kerjamu, meskipun tidak bersifat rutin.”

Aku sebal mendengar komentarnya saat itu. Terdengar menghakimi untuk didengar orang yang sedang dalam emosi yang meluap-luap. Setelah ku pikir-pikir, kalimatnya benar juga. Pekerjaan itu bukan hal berat. Hanya membantu dalam mengumpulkan data yang mana tidak jauh dari tupoksi harianku di bidang administrasi. Sekalipun aku tak suka, itu tetap tanggung jawabku. Bahkan dia menyampaikannya tanpa menghakimi. Mungkin bermaksud meluruskan. Bukannya lurus, aku justru mencemoohnya dengan kalimat “aku sih tidak seperti kamu yang mau saja disuruh ini itu.” Setelah ku pikir lagi, dia juga sering menolak pekerjaan terang-terangan. Tapi aku tak pernah mendengar ia merengek tentang itu pada siapapun. Tetap saja, tak seharusnya dia menegurku begitu. Setidaknya dia bisa memberi sedikit empati padaku.

Pernah pula suatu waktu aku menceritakan kelakuan rekan kerjaku yang mulai kurang ajar dan membawaku ke dalam urusan rumah tangga. Dia justru bertanya, “kenapa dia bisa sampai begitu?”. Karena ku rasa ia cukup tertarik dengan ceritaku, ku ceritakan padanya yang saat itu terjadi. “Aku ke rumahnya, mengambil bukuku yang ia pinjam”. Dia malah menjawab, “Untuk apa kamu ke rumahnya? Ku lihat buku itu ditaruh di kantor. Kamu sengaja ke rumahnya untuk bertemu dengan istrinya, kan?”

Aku mengadukan ketidaksukaanku itu pada Lala. Meski kami bertiga -aku, Renata, dan Lala- berteman dekat, aku lebih nyaman mengadu semua hal dengan Lala. Ia tidak pernah menyalahkanku. Ia selalu mendukung apapun yang ku lakukan. Tidak seperti Renata yang cenderung menyudutkan.

“Kan sudah ku katakan untuk berhati-hati. Dia banyak akal. Ada banyak makna terpendam di balik pernyataannya yang tenang,” pesan Lala setelah menerima aduanku.

 

sumber gambar: //in.pinterest.com/pin/764626842958914789/