Photo by Callum Skelton on Unsplash

 

Kemarin, aku bercerita tentang Persimpangan Pelangi yang memberiku warna-warni begitu memikat. Malam itu rasanya semuanya aneh. Warna-warna yang ada tampak semakin kuat dan memaksa jiwaku keluar. Jiwaku yang dipenuhi keabuan ini tak kuat menahan untuk keluar hingga tubuhku terpaksa harus membantunya bertahan. Aku tak tahu kenapa tubuhku bereaksi demikian. Semua perlawanan yang dilakukan tubuhku berjalan spontan tanpa diminta. Kepalaku mencemooh perlawanan tubuh terhadap warna-warna itu.

“Cih, bodoh sekali kau, wahai tubuh. Biarkan saja jiwa itu lepas. Toh, keabuannya hanya menyusahkanku saja. Berkali-kali ku katakan untuk menghilangkan ragu, ia tak percaya. Malah memaksaku terus membuat manusia ini berpikir terus-menerus,” kata kepalaku.

“Tidak. Aku harus membuatnya bertahan dengan segala keabuannya. Ia akan membuat manusia ini semakin dewasa dengan memupuk ragu,” jawab sang tubuh.

“Persetan dengan kedewasaan. Ini sudah malam. Jangan buat manusia ini mempekerjakanku sampai selarut ini. Aku juga ingin istirahat. Sudah berapa lama dia memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkan? Entahlah, aku sendiri sampai tak ingat.”

Sudah malam memang. Pukul sepuluh lebih lima belas. Itu artinya, aku sudah hampir tiga jam berada di sini. Tapi jalanan makin ramai. Semakin ramai, abuku semakin kuat. Dan entah kenapa, aku menikmati semua keabuan yang seakan menyelimuti di tengah dinginnya malam.

“Tapi manusia ini menikmati proses berpikirnya,” pungkas tubuhku dengan masih memeluk jiwa, mempertahankannya apapun yang terjadi.

“Menikmati apa? Menikmati jiwanya yang semakin abu, yang bahkan tak bisa mempertahankan diri dari kekuatan warna-warna di luar sana?”

“Tidak. Diamlah! Kau terlalu banyak menggunakan otakmu, sampai-sampai tak punya hati untuk merasakan lelahnya jiwa yang abu.”

“Jiwa itu sengaja melelahkan dirinya. Dan asal kau tahu saja, otakku tidak sembarangan dalam berpikir. Ia bekerja dari laporan dua bola mata. Merasa dari apa yang disampaikan sang hidung. Mendengar dari apa yang disalurkan si telinga. Mulut saja yang rasanya ingin ku depak dari bagianku. Ia terlalu banyak menuruti hati, bukannya mengikuti otak.”

Aku menutup mulutku. Takut ia memprotes apa yang disampaikan kepalaku. Jangan sampai mulutku marah dan benar-benar pergi. Dia telah banyak melakukan kebaikan, menuturkan ucapan yang menyenangkan pada banyak orang, yang kemudian membuatku banyak tersenyum. Jiwaku boleh saja abu, tapi mulut dan bibirku tetap memancarkan merah yang candu dan memikat. Setidaknya, ia bisa tetap tersenyum dan meyakinkan bahwa jiwaku baik-baik saja.