Photo by Nick Chalkiadakis on Unsplash

 

PUKUL tujuh lebih lima belas. Aku melangkah ke arah persimpangan. Dua bulan sudah aku melakukannya setiap malam tanpa jeda. Sendiri ditemani angin. Sesekali ditemani kucing hitam bermata kuning menyala. Dia mengikutiku dengan waspada seakan takut aku akan merusak tempatnya tidur malam ini. Mungkin juga berharap ku beri sesuatu yang enak dimakan. Tapi sayangnya aku tak pernah berniat memberinya makan dan tak terbersit untuk membawa daging atau semacamnya untuk dia makan. Aku memang bukan pecinta kucing yang selalu sedia makanan kucing di dalam tas. Tapi bukan itu alasan utamanya. Selain aku memang tidak membawa tas atau benda lain selain pakaian yang menempel di tubuhku, aku punya alasan lain. Sesederhana bahwa aku hanya ingin menyusuri jalan ini dengan hening tanpa melakukan aktivitas lain sampai ke persimpangan di depan sana.

Jarak dari rumahku ke persimpangan yang ku maksud tak begitu jauh. Hanya sekitar lima belas menit lamanya. Bisa lebih lama tapi tak pernah lebih cepat dari itu karena langkahku selambat berjalan di genangan banjir. Semilir angin yang membelit dan memberatkan kakiku tak pernah membiarkanku berjalan lebih cepat. Aku dipaksa untuk menikmati belaiannya di kulitku yang terasa sangat menenangkan. Jalan menuju persimpangan ini satu-satunya yang memberi sentuhan angin lembut memanjakan. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Tak ku rasakan sentuhan yang sama saat aku melintasi jalan menuju persimpangan di belakang, ke arah sebaliknya. Dan nuansa lembut yang disajikannya tepat pukul tujuh lebih lima belas adalah yang terbaik. Lebih satu menit saja, kelembutan itu tak akan membawaku ke persimpangan. Lenyapnya kelembutan itu juga akan membuatku berbalik arah dan menggagalkan rencana untuk menikmati persimpangan.

Malam ini, kucing hitam itu ada lagi. Kali ini dia tak mengikutiku karena terlalu sibuk memandangi wajah kucing lain. Si Kucing Oranye. Dia seperti kucing oranye kebanyakan tapi aku yakin belum pernah melihatnya di malam-malam sebelumnya atau bahkan di tempat lain. Bulu di kepalanya menguak lebar menampakkan luka yang ku duga hasil perkelahian yang masih sangat baru. Tapi sepertinya ia tak sedang berkelahi dengan Si Kucing Hitam karena tak ada tanda-tanda perselisihan di antara mereka. Bisa jadi Si Kucing Oranye mencoba berkenalan dan berharap Si Hitam bersedia mengobati luka di kepalanya. Kenapa pula aku harus mengurusi dua kucing yang bahkan tak pernah memberi dampak apapun di hidupku? Tentu saja aku tak pernah menganggap kawalan Si Kucing Hitam selama beberapa minggu belakangan sebagai sesuatu yang berarti.

Aku melanjutkan langkahku menuju persimpangan. Terlalu sibuk mengamati kesunyian Si Hitam dan Si Oranye membuatku kehilangan beberapa menit. Anehnya, angin masih meniupkan kelembutan yang sama yang berhasil mengantarku ke persimpangan yang ku maksud. Persimpangan ini ku beri nama persimpangan pelangi karena aku bisa melihat berbagai macam warna di sini. Tak hanya tiga warna lampu lalu lintas. Ada lampu sorot berwarna putih pada tiang di salah satu pojok simpang, tepat berseberangan dengan tempatku berdiri. Aku tak tahu namanya. Ia menyinari semua area jalan seolah patroli. Di sampingnya ada tong sampah yang di atasnya terdapat kelip-kelip lampu warna biru. Aku tak paham fungsi keberadaan lampu itu. Tak ada di tempat mana pun tong sampah dengan lampu warna biru. Mungkin hanya iseng-iseng orang saja. Bangunan di sekitar sini juga berwarna-warni, tidak monoton. Di belakangku berdiri, berkibar bendera negaraku dan beberapa bendera negara lain. Aku tak pernah menghitungnya karena aku tak pernah peduli. Tanpa ku pedulikan, warna-warna yang mereka kibarkan telah sampai di mataku dan masuk ke jiwaku. Aku juga bisa melihat warna-warni mobil diparkir berjejer membentuk barisan warna yang menyenangkan.

Kursi biru muda yang biasa ku gunakan untuk melepas lelah telah diduduki sepasang anak muda yang sedang duduk bersila menikmati obrolan. Ku putuskan untuk menyeberang jalan dan duduk di kursi abu. Ah, abu-abu,pikirku kemudian. Rupanya alam tahu kacaunya aku saat ini. Pikiranku memang sedang kalut dan tak mampu berpikir jernih. Tak bisa hitam, apalagi putih. Sepertinya malam ini aku akan lebih lama berada di sini. Siapa tahu, menikmati pelangi di sini mampu memberiku warna yang lebih dari abu.

Ku amati pengendara-pengendara yang berhenti dan melaju mengikuti warna lampu di tiang abu itu. Setelah ku pikir, kenapa abu di dalam pikiranku tak bisa menyihir diriku seperti yang dilakukan abunya tiang bersama lampu itu?. Dimana bisa ku dapatkan warna merah untuk memaksaku berhenti, kuning untuk membuatku berhati-hati, dan hijau untuk mendorongku melangkah maju? Kalau bisa ku pesan untuk diriku, aku ingin merah dan hijau dengan intensitas warna yang paling jelas. Kuning, sepertinya aku sudah punya. Tinggal diasah sedikit saja agar lebih bersinar. Bisa juga ku ambil satu buah bola mata Si Kucing Hitam untuk ku bawa pulang supaya aku tak perlu repot mengasah.