Photo by Nick Fewings on Unsplash

 

Sudah lima tahun kami menikah. Belakangan ini, tak ada percakapan. Tak ada dari kami menunjukkan ekspresi untuk satu sama lain. Tak ada omelan tentang handuk basah yang sembarangan ditaruh. Tak ada yang mengomentari apa yang masing-masing pakai. Tak ada yang mengomel saat potongan rambut tak sesuai. Tak ada perdebatan apa pun. Hanya aku dan dia menjalani kehidupan di bawah atap yang sama. Membuka mata, menjalankan rutinitas, dan kembali tidur untuk menjalani esok hari.

Aku selalu bangun pagi. Seperti biasa. Aku akan membangunkan Kevin, suamiku, yang mungkin masih sangat ingin melanjutkan tidurnya. Tapi, harus kuakui, membangunkan Kevin tak pernah sulit. Ia selalu bangun saat aku menepuk lengannya dan berkata, “bangun, mas”. 

Sementara ia mandi, aku akan menyiapkan sarapan dan pakaian yang harus ia gunakan untuk bekerja. Para feminis mungkin akan mengutuk perbuatanku ini. Perbuatan yang memposisikan diriku sebagai pelayan di rumah sendiri. Pelayan suamiku sendiri. Aku tak pernah mempermasalahkan itu. Kami sudah membuat kesepakatan sejak awal.

 

***

“Siapa yang akan bangun pagi dan menyiapkan keperluan?” tanyanya, lima tahun lalu, di awal pernikahan.

“Pagi adalah waktu yang krusial untuk memulai hari, dan kamu bukan tipe morning person yang akan bangun pagi dan membereskan banyak hal di pagi hari. Aku nggak mau kamu merusak pagiku,” jawabku panjang, kemudian berhenti sejenak untuk mengikuti tawanya yang renyah. Ia memang tak bisa diandalkan di pagi hari. “Aku yang akan ambil tugas itu.”

“Baiklah kalau begitu, tuan putri. Suamimu ini akan tidur dan bersenang-senang sepanjang hari.”

“Enak aja. Kamu bertugas di malam hari. Masukin baju kotor ke cucian, cuci piring bekas makan malam, dan mastiin semua pintu terkunci sebelum kita tidur.”

“Siap, tuan putri,” ledeknya seraya mengangkat tangannya hormat kepadaku, yang kemudian kupukul karena membuatku kesal, dan ia justru memelukku.

***

 

Ada hal yang lebih pantas untuk dipermasalahkan daripada siapa melakukan apa. Pernikahan kami. Pernikahan yang terasa semakin hambar.

Aku selalu pulang malam. Beruntungnya, ia selalu pulang lebih cepat. Hidangan makan malam selalu sudah tersaji di meja makan. Aku mencium aroma nasi goreng Bang Jeki, langganan kami di perempatan depan kompleks. Selesai mandi, aku pergi ke ruang makan dan Kevin sudah berada di tempat yang sama.

Ruang itu sederhana. Berukuran 3×3, sebagaimana dapur pada umumnya di perumahan pinggiran ibukota. Dapur bersih dengan kompor dan seperangkat alat masak seadanya berada di sisi kanan, membentuk huruf L bersama tempat cuci piring. Kami memutuskan untuk membuat dapur bersih karena kami jarang masak dalam porsi besar. Kami lebih suka makan di luar atau membeli makanan untuk dibawa pulang. Kami lebih suka menghabiskan waktu bersama di meja makan. Meja kayu persegi menempel ke tembok dengan dua kursi yang mengarahkan kami ke taman mungil di belakang rumah. Di situlah kami selalu menyempatkan makan bersama. Kevin selalu duduk di sebelah kanan dan aku di sebelah kiri. 

Apa pun yang terjadi, kami tak pernah melewatkan pertemuan pagi dan malam di meja itu. Bila ia terpaksa makan sebelum aku, ia selalu menemani aku makan di meja itu. Begitu pun sebaliknya. 

Belakangan ini, hanya denting sendok pada piring yang mengisi ruang makan kami. Sesekali kami menanyakan bagaimana kantor?. Baik aku atau dia, akan menjawab:

baik-baik saja, atau

masih seperti biasa, atau

begitulah, atau

tidak ada yang penting.

Dan kalimat sejenis lainnya, yang tak pernah berlanjut pada kalimat berikutnya. Kemudian kami diam, melanjutkan makan hingga tandas, dan kemudian selesai. Aku meninggalkan bekas makanku di bak cuci dan ia yang akan mencuci semuanya. Begitulah kami melakukan apa yang seharusnya kami lakukan. 

 

***

 

“Kamu ada masalah ya sama Kevin?” tanya Leoni, teman kerjaku, di sela makan siang kami.

“Entahlah. Hambar.”

“Kalian nggak mau punya anak aja?”

“Le, udah deh. Punya anak bukan jalan keluar. Malah nambah ribut.”

“Seenggaknya, rumah kalian jadi lebih rame dan ada yang bikin kalian saling ngobrol. Lagian, kalian kenapa sih nggak mau punya anak? Udah lima tahun lho.”

“Nggak semua pernikahan harus diisi lebih dari dua manusia.”

“Oke. Jadi, penyelesaiannya gimana?”

Entahlah. Aku sendiri tak bisa menjawabnya. Semua baik-baik saja sampai usia pernikahan kami empat tahun, dan kemudian kami sama-sama mendapatkan promosi jabatan yang membuat kami jadi jarang mengobrol. Ia membuatkan pesta kecil-kecilan untuk promosi kami berdua. Sebuah pesta sederhana di dapur kesayangan kami, yang sejak mula kami rancang untuk menikmati waktu bersantai sambil menikmati aspidistra dan beberapa anggrek yang kami rawat bersama.

“Kamu tahu nggak, kenapa aspidistra?” Setelah memastikan aku menggeleng tidak tahu, ia menjawab, “Karena dia bisa bertahan di segala cuaca. Perawatannya cukup mudah. Ia hanya butuh diperhatikan dengan waktu yang konsisten. Tidak perlu berlebihan, ia akan terus tumbuh cantik.”

“Kamu tahu nggak, kenapa anggrek?” tanyaku, setelah ia selesai menjelaskan.

“Karena kamu suka anggrek,” jawabnya yakin.

Benar, sih. Tapi aku menggeleng. “Untuk melihat kecantikannya, kamu harus merawatnya dengan baik. Dia mengajarkan aku tentang sebuah perjuangan.”

Pesta itu rupanya menjadi terakhir kalinya kami benar-benar menikmati kebersamaan. Setelah itu, ia selalu pulang paling cepat jam 9 malam. Semalam apa pun ia pulang, kami selalu berkumpul di meja makan. Kadang aku sengaja menunggunya pulang untuk makan bersama. Kadang aku makan duluan, dan tetap menemaninya makan saat ia pulang. Apa pun yang terjadi, kami selalu bertemu di meja makan sederhana kami, menghadap aspidistra dan anggrek kami yang tak pernah terlihat layu.

Waktu berlalu dan kami kehilangan kata. Kami tak tahu harus memulai obrolan dari mana. Setiap kalimat untuk memulai hanya akan membawa kami kepada jawaban basa-basi yang mengakhiri semuanya.

“Lo yakin Kevin nggak selingkuh?”

Aku menggeleng dengan yakin. “Dia payah dalam menyembunyikan apa pun.”

“Kalian udah coba ngobrol?” 

Aku melotot protes. “Kamu nggak dengar ceritaku ya?”

“Maksud gue, mengkomunikasikan keheningan kalian berdua itu lho,” jawabnya kemudian, mengerti maksudku.

 

Malamnya, aku menunggu Kevin di meja makan. Ia pulang lebih malam dari biasanya. Setiba di rumah, ia mulai dengan menanyakan bagaimana hariku di kantor, dan aku menjawab biasa saja. Kemudian kami diam. Aku masih mencoba mencari kata untuk memulai lagi. Kata apa yang seharusnya kuucapkan? Haruskah aku terus terang atau perlu berbasa-basi dulu? Ah, basa-basi yang akhirnya jadi ujung percakapan?

“Aku mandi dulu ya.”

“Kev,” kataku, memulai.

Aku sengaja memulai dengan memanggil namanya. Aku tahu, kami sudah sepakat tak akan pernah saling memanggil nama sejak menikah. Sesuatu yang buruk selalu datang setelah aku atau dia menghilangkan sebutan, dan menyisakan nama. Dan aku ingin tahu reaksinya kali ini. 

Ia berhenti dan berbalik. Kali ini tatapannya tajam, seolah mempertanyakan. Ia tak percaya aku akan memanggilnya demikian. Tapi aku lega. Setidaknya, aku tahu ia masih Kevin yang kukenal lima tahun lalu. 

“Aku merasa pernikahan kita semakin hambar. Kita cuma melakukan rutinitas tanpa ada obrolan yang berarti. Pernikahan apa yang isinya hanya diam dan diam sepanjang hari?”

“Kamu nggak berencana untuk bercerai, kan?”

“Tergantung,” jawabku spontan dan singkat. Aku kaget dengan jawabanku sendiri. Sebenarnya, sebuah perceraian tak pernah terlintas sedikit pun  dalam pikiranku. Kenyataan bahwa sekarang aku mulai mempertimbangkannya justru membuatku gentar.

“Mora, jangan main-main sama perceraian.”

“Aku nggak main-main. Menurut kamu, kita masih bisa hidup berdua tapi nggak merasa saling bersama gini?”

“Selama ini aku diam, tapi aku masih merasa bersama kamu lho. Kamu yang selalu tidur lebih awal setelah kita selesai makan. Makanya aku nggak pernah ngajak kamu ngobrol. Kamu kelihatan capek. Mungkin memang kamu butuh banyak istirahat.”

Aku terhenyak mendengar pengakuannya. Aku tak sadar. Selama ini, akulah yang selalu mengakhiri percakapan di meja makan. Akulah yang membuat meja makan menjadi hening. Akulah yang lekas pergi setelah rutinitas terselesaikan. Menyadari itu semua, aku hanya bisa mengeluarkan satu kata: “Maaf”. Lirih. Lirih sekali, hingga kupikir hanya aku yang bisa mendengarnya. Mungkin aku memang mengucapkannya dalam hati.

Tapi Kevin mendengarnya. Ia merengkuh tubuhku. Ia selalu mengetahui sisi sekecil apa pun dalam diriku, bahkan terhadap apa-apa yang tak pernah terucap.