Photo by Paolo Bendandi on Unsplash

 

Bu, aku lupa kapan terakhir ku katakan betapa aku mengasihimu.

Sudah kucoba mengorek ingatan itu sampai ke dasar, tapi aku tetap tak ingat. Mungkin karena sudah terlalu lama.

Tapi, percayalah, kepergianku sekarang tak ada hubungannya dengan itu.

Bagiku, kata tak bisa dijadikan landasan untuk menggambarkan rasa. Tapi, kata dapat menyatukan rasa. Dengan kata, kita menyatukan rasa dan membangun asa. Untuk itu, kukatakan padamu:

Aku mencintaimu, bu.

Jarak tak akan membuat cintaku rusak.

Untuk memelukmu, tubuhku perlu lebih dari delapan jam menempuh jalur darat. Untuk mencintaimu, kutitipkan rindu pada angin yang membelaimu setiap detiknya. Kuharap angin itu cukup lembut menyentuh kulitmu dan masuk ke dalam jiwamu yang mampu kau dekap kapanpun kau mau.

Jangan salah sangka. Angin itu bukan untuk menggantikan aku. Angin itu hanya mediaku menyampaikan cinta dan memupukkan rindu. Dan setiap rindu itu akan ku ambil dengan tubuhku, yang akan merengkuhmu dan menemanimu sampai Tuhan mengambilmu dariku.

Aku tahu, kau tidaklah sempurna.

Untuk itulah aku di sini, merangkai cahaya untuk mengisi ketidaksempurnaan itu. Cahaya yang akan kita nikmati bersama di hari dimana kau bahkan tak kuasa menikmati pendarnya. Tapi, akan kubawakan rangkaian cahaya tak terbatas yang mampu menembus pandangan dan meresap menyinari hatimu.

 

Salam hangat dari aku yang pergi untuk kembali