Photo by freestocks on Unsplash

 

Februari, Sebuah Permulaan  – hari keduapuluhenam

 

Hari ini aku akan pulang ke Bandung. Saat mengemasi barang-barang, di tengah barang-barang lucu yang tidak kubutuhkan, aku menemukan selembar kertas bertuliskan : “Aku juga menyukaimu, bahkan aku mencinta, tapi apakah cintaku cukup untuk duniamu yang begitu luas?”. Kertas itu membawaku terbang menuju kejadian dua tahun lalu.

**

Di akhir semester empat, aku mengagumi seorang pemuda, mahasiswa jurusan Filsafat tingkat akhir bernama Reyhan. Kami bertemu di sebuah pertunjukan seni di ISI Yogyakarta. Tak ada yang menarik dari perkenalan awal kami. Sofia, temanku, mengenalkanku kepada Reyhan, yang secara tak sengaja bertemu di sana. Setelah perkenalan itu, kami jadi sering bertemu atau sekadar berpapasan. Pertemuan-pertemuan itu aneh, mengingat Fakultas Teknik dan Filsafat terpisahkan oleh Jalan Kaliurang.

“Mungkin Tuhan ingin aku bisa selalu melihat senyummu,” katanya, saat aku mengungkapkan keanehan itu.

Siapa pun yang kuceritakan tentang ini akan mengatakan, kalimat itu gombalan belaka. Tapi tidak denganku. Aku merasa ada yang tulus dari ucapannya.

Waktu bergulir dan aku semakin dekat dengannya. Kami tidak hanya berpapasan, namun juga sering pergi bersama. Perlakuannya padaku tak pernah hitam atau putih, dan itu membuatku bingung akan perasaannya.

Suatu waktu, aku menyatakan perasaan sukaku padanya. Ia hanya diam, tak ada jawaban. Kemudian ia mengambil bolpoin dan buku, menuliskan sesuatu. Ia tak memperbolehkan aku melihat apa yang ia tulis. Selesai menulis, ia menyobek kertas itu, melipatnya dan memasukkannya ke dalam tasku. “Bacanya di kos ya,” pesannya.

Sesampai di kos, aku segera membuka kertas itu.

Aku juga menyukaimu, bahkan aku mencinta, tapi apakah cintaku cukup untuk duniamu yang begitu luas?

Jujur, aku senang membaca dua enam kata pertama. Tapi aku tak paham maksud dari kalimat selanjutnya. Aku meraih ponsel dan meneleponnya.

“Apa maksudnya?” tanyaku, tanpa basa-basi.

“Udah dibaca?” tanyanya balik.

“Udah.”

“Jadi?” tanyanya lagi.

“Aku nggak ngerti maksudnya. Kenapa harus ada tapinya?”

“Lalu?” tanyanya lagi, dan itu membuatku kesal.

“Ya berhenti di kata mencinta aja.”

“Di tulisan itu, aku nggak lupa ngasih tanda tanya kan?” Aku hanya berdeham mengiyakan. “Berarti kamu dulu yang jawab,” lanjutnya.

“Aku harus jawab apa? Pertanyaan kamu ambigu dan aneh.”

“Apanya yang aneh? Aku senang setiap kali kamu cerita tentang mimpi-mimpimu. Kerja di perusahaan multinasional, lanjut S2, memulai bisnis jasa desain interior, merancang bangunan-bangunan kelas dunia, dan masih banyak lagi. Aku bisa sebutkan semua, kalau kamu mau mendengarkan sampai besok pagi,” katanya terkekeh. “Kalau kamu belum bisa memahami pertanyaan itu, mungkin kamu masih belum membutuhkan cintaku, atau cinta siapa pun.”

Aku masih terdiam.

“Udah dulu ya. Aku lagi di jalan. Kabari aku, kalau kamu udah punya jawabannya.”

**

Selesai mengemasi barang-barangku, aku mengirim pesan pada Reyhan.

Dua tahun lagi, temui aku di titik nol kilometer. Kuharap, aku sudah punya jawabannya.

 

==

Tulisan lainnya dalam kompilasi bertajuk “Februari, Sebuah Permulaan”
Latar belakang : Februari, Sebuah Permulaan
Hari pertama : Mendamba Motivasi
Hari kedua : Loncatan Spiritual Seekor Katak
Hari ketiga : Eksklusivisme Agama dan Pemikiran
Hari keempat : Meniadakan Kehilangan
Hari kelima : Sepragmatis Orang-orang Tua
Hari keenam : Keluarga yang Tak Sempurna
Hari ketujuh : Orang yang Berharga
Hari kedelapan : Berkontribusi
Hari kesembilan : Terdera Kebermanfaatan
Hari kesepuluh : Redup dan Padam
Hari kesebelas : Anggrek Terakhir Ayah
Hari keduabelas : Habiskan Makananmu, Nak!
Hari ketigabelas : Surat dari Kota Pelangi
Hari keempatbelas : Formasi Harapan Batu Sungai
Hari kelimabelas : Biru Mengudara di Langit Jakarta
Hari keenambelas : Kicau Semangat Burung Pipit
Hari ketujuhbelas : Air Laut, Menyurut, Memaksa Pasang
Hari kedelapanbelas : Bu, Aku Ingin Melaju di Lantai Basah
Hari kesembilanbelas : Berpendidikan, Berproses, Berguna
Hari keduapuluh : Mengokok Lolongan
Hari keduapuluhsatu : Menjelma Oksigen
Hari keduapuluhdua : Diam, Tidak Diam
Hari keduapuluhtiga : Fey, Peri Negeri Angan
Hari keduapuluhempat : Arogansi Sepasang Manusia
Hari keduapuluhlima : Mabuk