Berkali-kali aku menggosok kedua telapak tanganku. Bukan karena di luar sedang hujan. Bahkan dingin yang ditimbulkan hujan ditambah dengan pendingin ruangan di kedai kopi ini tak bisa ku rasakan. Ada rasa lain yang lebih dingin dari itu. Sesuatu yang lebih keras dari suara rintik hujan, di dadaku. Tak ku sangka kedai yang dulunya sanggup menghangatkan ini berubah begitu drastis. Tadinya ku sangka aku akan baik-baik saja. Rupanya waktu tak benar-benar bisa membunuh apa yang seharusnya tinggal. Ku raup wajahku dan mendesah sekali lagi.

“Kenapa nggak bawa jaket?”

Aku tergelak. Suara itu. Aku sangat mengenalnya. Ah, sial. Kenapa dia datang begitu cepat? Aku bahkan belum selesai menata hati.

“Hai,” aku melambaikan tangan kikuk. Aku melirik jam di dekat meja kasir. Masih pukul 16.05. “Kamu datang 25 menit lebih cepat.”

“Kamu juga.”

“Ah, itu, aku pulang kerja lebih cepat dan langsung mampir ke sini. Akan cukup lama bila aku pulang terlebih dahulu.”

Dia menyunggingkan senyum yang pernah ku akui padanya bahwa aku suka. Dan kini aku benci dia memamerkannya dengan sengaja.

“Lain kali, bawalah jaket. Bulan ini akan sering hujan.”

Aku mengangguk lalu menyesap teh lemon hangat pesananku. Aku ingin segera menyelesaikan pertemuan ini tapi tak tahu harus mulai dari mana.

Dua minggu yang lalu, kekasihku Beno menanyakan kesiapanku untuk menikah. Entah sudah ke berapa kalinya, aku tak tahu persis. Dan lagi-lagi aku menjawab belum siap. Lima tahun bersama tak juga membuatku yakin padanya. Tentu saja aku cinta. Aku yakin itu. Tapi ada sesuatu lain yang mengganjal. Setiap kali Beno menyinggung soal pernikahan, sesuatu yang mengganjal itu seketika muncul entah dari mana. Sering aku berharap rasanya akan semakin besar dan semakin kuat agar aku tahu sesuatu apa itu. Tapi perasaan itu tak semakin besar. Intensitasnya tetap sama, tak berubah sedikit pun.

“Kenapa?” tanya Beno kala itu. “Harus sampai kapan hingga kamu siap?”

Aku sendiri pun tak tahu sampai kapan. Yang jelas, aku tak bisa menikah sebelum sesuatu ini hilang. Sungguh, bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan padamu sesuatu yang tak ku ketahui secara pasti? Yang bisa keluar dari mulutku hanya janji.

“Beri aku satu bulan. Aku akan berikan jawabannya.”

“Kalau kamu masih belum siap bagaimana?”

“Kita akhiri saja.”

“Setelah lima tahun lamanya?”

“Ya,” aku mengangguk kecut. “Mungkin itu akan lebih baik. Kau bisa mencari wanita lain yang siap untuk menikah.”

“Sudah berapa kali aku bilang, mencari wanita tak semudah itu. Jika aku pilih kamu, itu tandanya tak akan ada yang lain.” Nada suaranya sudah mulai meninggi. Aku tahu ia marah. Tapi ia berusaha keras memahamiku. Lagi.

Sejak saat itu ia benar-benar memberiku ruang untuk berpikir. Hanya sesekali ia menanyakan kabar dan kemudian menghilang. Ada sedikit rasa bersalah memang. Tapi sedikit ruang yang dia beri mampu menghadirkan kisah masa lalu yang ku yakini akan menampilkan secercah harapan.

Aku berhasil meminta janji temu dengan orang dalam kisah masa laluku. Di kedai kopi ini, yang dulu kami gunakan untuk melepas penat bersama. Aku tidak suka kopi. Aku suka kehangatan yang menyelimuti kami di kedai kopi ini. Dan sekarang aku berada di sini lagi. Dengan orang yang sama.

“Kamu tahu? Dulu, kedai ini begitu hangat. Aku nggak perlu repot bawa jaket. Kamu tahu kan aku nggak suka pakai jaket.”

Pria di hadapanku itu mengangguk mengerti. “Lalu kenapa kamu memintaku ke sini?”

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”

“Apa?”

“Dulu, kamu pernah memintaku untuk tetap menunggu saat kamu sedang ingin menjauh. Kamu juga pernah bilang, ada sesuatu yang ingin kau pastikan tentang aku. Setelah itu, kamu semakin menjauh dan tiba-tiba hilang. Apa saat itu kamu telah berhasil memastikan sesuatu?”

Dia terdiam.

“Nggak masalah kalau kamu nggak siap untuk jawab. Aku sudah mendapat apa yang ku mau, kok.” Aku memasukkan ponselku ke dalam tas. “Sampai jumpa.”

Belum sempat aku berdiri, dia menggumamkan namaku. “Ve, ku rasa kamu sudah dewasa saat itu dan kamu sudah bisa menjalani hidupmu dengan baik. Tanpa aku.”

Aku mendesah. “Harusnya aku sadar, kehadiranmu kala itu selayaknya kakak laki-laki yang melindungi adiknya. Yang kemudian melepasnya tanpa petunjuk.”

Aku benar-benar pergi sekarang.

Jawaban itu telah ku temukan sejak dia datang. Tak ada lagi kehangatan yang dulu menyelimuti. Tak ada semangat yang dulu ia salurkan melalui wajah cerianya. Tadinya aku sedikit ragu melihat senyumnya yang masih terasa lembut dan menghanyutkan. Tapi rasanya tak sesejuk dulu. Semua sudah benar-benar berbeda. Rasa yang dulunya ku pikir cinta, tak lebih dari sekadar harapan kosong. Semua sudah berakhir. Semua tlah ku tutup bersama dentuman kecil dari pintu kedai yang rasanya ku hempaskan agak keras. Terguyur bersama hujan yang masuk melalui pori-pori kepalaku. Menuju memori dan mengambil semua jejak masa lalu. Lalu menguap bersama angin. Dan aku tak peduli kemana akan angin bawa serpihan memori itu. Yang jelas, ku minta ia dibawa jauh ke awan, dan hilang tak berbekas.

-o-

Tepat satu bulan setelah Beno terakhir kali membicarakan pernikahan, aku memberi jawaban sesuai janjiku kala itu. Telah ku temukan jawaban dari sesuatu yang mengganjal itu. Sesuatu yang selalu menekan saat Beno membicarakan pernikahan. Pertemuan dengan orang di masa lalu itu telah menjawab segalanya.

“Mari kita menikah.”

“Kamu yakin? Kamu melamarku?”

“Kenapa enggak? Wanita boleh melamar pria, kan?”

Tak peduli seberapa keras aku mempertahankan masa lalu, tak akan pernah mengubah apa yang terjadi saat ini. Aku memilih menyelesaikan luka di masa lalu untuk hidup di masa ini. Karena aku mengerti, masa depanku akan jauh lebih indah tanpa bayangan masa lalu.

 

Sumber gambar : //static.wixstatic.com/media/f698bf_f913cc45783b404f86ecaa2dac5b3c10~mv2.jpg/v1/fill/w_640,h_480,fp_0.50_0.50,q_80,usm_0.66_1.00_0.01/f698bf_f913cc45783b404f86ecaa2dac5b3c10~mv2.webp