Photo by Vero Photoart on Unsplash

Lama aku diam dalam bimbang. Memandangi satu per satu barang di rumah ini. Rasanya aku tak ingin melepas semua ini. Aku ingin membawa semuanya bersamaku. Aku ingin hidup bersamanya. Bersama kenangan tentangnya. Tentang kebersamaan kami. Tentang segala rindu yang memupuk setiap harapan. Tentang segala candu yang meramu kehangatan.

Deru mobil di depan membuatku terkesiap. Aku hafal betul suara itu. Deru mobil diparkir yang selalu membuatku berlari demi melihat hangat senyum si pemilik mobil dan membalasnya dengan pelukan. Pelukan yang selalu hangat dan selalu membuatku rindu.

“Aku bawakan martabak kesukaanmu. Coklat dengan taburan keju di atasnya.” Aku menatapnya. “Iya, extra selai stroberi di wadah terpisah, kan?” ucapnya, mengerti arti tatapanku. Aku mengangguk dan menyambut kantong yang ia bawa dengan girang.

Aku ingin kembali ke masa itu. Masa dimana hanya ada kami berdua.

Tok tok tok

Bunyi ketukan pintu itu menyadarkan lamunanku. Aku sudah hampir berlari. Lupa bahwa beberapa waktu terakhir aku sudah tak pernah melakukannya. Alih-alih berlari, belakangan ini aku enggan membukakan pintu atau sekadar menjawab.

Tok tok tok tok tok

Ketukan pintu di depan semakin menuntut. Dengan berat, aku membuka pintu dan melihat wajah itu. Wajah yang selalu membuatku tersenyum, dengan mata teduh yang selalu meluluhkan semua keraguan. Membuatku selalu ingin segera membagi setiap bait kehidupan yang terlewat kala ia jauh.

Tatapan matanya kali ini berbeda. Aku selalu bisa mengartikan apa yang sedang ia rasakan melalui mata itu. Kali ini aku tak tahu. Mungkin ia marah, bingung, kecewa, atau bahkan pasrah.

Aku mengalihkan pandanganku ke sofa. Menggeser sedikit badanku agar ia bisa masuk. Ia mengerti dan duduk di sofa terdekat. Aku memilih duduk sejauh mungkin. Kalau bisa, aku ingin langsung pergi saja.

Sampai beberapa menit kemudian, tak ada satu pun dari kami memecah keheningan. Aku hanya bisa memandang kosong ke halaman depan melalui pintu yang masih terbuka.

Saat aku memutuskan melihat wajahnya, ia sedang menatap nanar koperku di sudut pintu yang mengarah ke dapur. Dapur dengan mini pantry yang biasa kami gunakan menghabiskan akhir pekan dengan masak atau makan bersama. Dapur kecil yang menjadi saksi betapa kami selalu menikmati setiap kudapan, apa pun rasanya. Manis. Pahit. Asam. Hambar. Tak ada rasa yang mampu menggoyahkan kebahagiaan kami. Kebersamaan kami ialah rasa itu sendiri.

Aku sontak mengalihkan diriku ke tembok belakang pintu saat mata itu beralih menatapku.

“Kamu yakin akan pindah?”

Aku mengangguk. “Namanya Pak Hartono.” Ia diam. Membuatku kembali menatapnya. Jelas sekali ia menahan perasaannya. Rahangnya mengeras. “Besok, kuserahkan rumah ini kepadamu. Dia akan datang untuk mengurus surat jual belinya.”

“Aku tak peduli. Katakan saja kamu ingin tetap di sini dan aku akan membatalkan penjualan rumah ini.”

“Keputusanku sudah bulat, Sa. Keretaku berangkat besok pagi jam 8.”

Ia menatapku lagi. Mungkin tak percaya aku akan pergi secepat itu. Baru beberapa waktu lalu aku meneleponnya. Tak lama kemudian, ia sudah sampai di sini. Aku yakin ia bergegas kemari setelah aku mengabarinya bahwa sudah ada yang bersedia membeli rumah ini. Dua jam perjalanan dari Bandung ke Jakarta cukup untukku membeli tiket dan mengemasi barangku. Aku tak yakin seberapa kuat keputusanku untuk pergi akan bertahan saat kembali menatap matanya. Aku ingin menguatkan alasanku pergi. Meyakinkan diriku sendiri bahwa semua sudah siap dan tak ada alasan untuk tetap tinggal.

Ia diam cukup lama. Diam bimbang, menimbang-nimbang, sebelum kemudian berkata, “Setelah selesai dengan transaksi jual beli, aku akan menyusul ke Bantul.”

“Untuk apa?” tanyaku kaget.

“Untuk membangun kembali rumah ini. Bukankah kita bisa membangun rumah yang lebih besar di sana?”

“Sa,” jawabku lirih. Memohon agar ia menerima kenyataan bahwa itu tak mungkin.

“Aku akan mengajukan mutasi dari Bandung ke sana. Mungkin akan memakan waktu lama, tapi tak akan sulit. Percayalah.”

Aku menggeleng. Tak mungkin ia pergi dari Bandung. Pergi dari Bandung ke Bantul sama dengan meninggalkan semuanya. Tidak hanya karirnya harus dimulai lagi dari nol. Kedua orang tuanya juga tidak akan setuju.

“Aku akan meyakinkan Ayah dan Ibu. Mereka pasti mengerti.”

“Kamu tahu itu tak mungkin. Mereka tak akan rela kamu melepas karirmu hanya demi aku.”

Ia kembali diam. Ia yang paling tahu betapa kedua orang tuanya ingin ia, anak satu-satunya yang mereka punya, bisa menetap di Jakarta. Pekerjaannya di Bandung sudah hampir di puncak. Ia hanya perlu menunggu beberapa bulan untuk naik setingkat lagi dan kemudian mengajukan pindah ke Jakarta. Hanya kota inilah yang memungkinkan untuk ia mutasi tanpa turun jabatan. Membiarkannya pergi bersamaku hanya akan meruntuhkan apa yang ia bangun.

Orang tuanya juga tak akan setuju ia pergi ke kotaku. Itu tak mungkin. Sama tak mungkinnya membiarkan diriku menetap di Jakarta bersamanya.

Saat ia sudah menetap di Jakarta, kami akan lebih sering bertemu. Akan lebih sulit bagiku menatap matanya tanpa ingin benar-benar memilikinya. Semakin sering menatap matanya, membuatku semakin sadar bahwa kami tak punya cukup alasan untuk menyatu. Bahkan rumah yang kami beli bersama dua tahun lalu ini tak cukup mengukuhkan kebersamaan kami. Tak ada alasan yang cukup kuat untuk membelot dari keinginan orang tua kami. Tidak padanya. Tidak pula pada diriku.

Saat orang tuanya tahu kami memutuskan membeli rumah bersama, mereka bahagia. Bagi mereka, keputusan itu sama dengan kami akan segera menikah dan menetap di Jakarta. Kala itu aku tak tahu bagaimana menanggapi mereka. Aku hanya tersenyum sembari berharap dalam hati, semoga Tuhan memudahkan jalan kami. Seolah tahu apa doaku, ia menggenggam tanganku, mengamini. Meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Bulan lalu, Ibuku mampir ke Jakarta setelah mengunjungi Mbak Intan di Bogor. Mengetahui kedatangan Ibu, orang tua Aksa memintaku mengajak Ibu makan bersama di rumahnya. Aksa sudah membuat berbagai alasan untuk menolaknya, tapi itu justru membuat orang tuanya datang ke rumah dan bertemu Ibu saat aku bekerja.

Apa yang kami takutkan terjadi. Ibu tahu bahwa rumah yang kutinggali adalah milik kami berdua. Ia kecewa. Baginya, membangun rumah di Jakarta sama artinya aku tak akan pulang dan menetap lama di sini. Sama seperti Mbak Intan yang memutuskan membeli rumah di Bogor setelah menikah dan jarang sekali pulang.

Ibu tahu hubunganku dengan Aksa. Beberapa kali Aksa mengantarku pulang ke rumah. Ibu menyukainya. Aksa tahu bagaimana memperlakukan Ibu yang sangat sensitif. Bahkan lebih baik daripada aku yang seringkali kewalahan. Kata Ibu, dia pria yang baik. Ibu selalu berharap. Kelak, apabila kami menikah, Aksa bersedia tinggal di Bantul.

“Kalau kalian menikah, bangun saja rumah di pekarangan sebelah. Lha wong Mbakmu Intan, kan, sudah punya rumah di Bogor. Yang di sini buat kamu saja. Biar kamu ndak usah beli tanah. Tinggal bangun aja. Gampang, toh.”

Aksa selalu mampu meyakinkan Ibu meski tak pernah berani memberikan janji. Aku tahu ia sendiri tak yakin. Ia hanya ingin menghilangkan keraguan Ibu tanpa menjanjikan apa pun. Sedikit harapan mungkin cukup untuk menciptakan harapan yang lebih besar.

Usia kami tak muda lagi untuk terus tak mengindahkan keinginan mereka. Aksa sudah 35 dan aku hanya dua tahun lebih muda darinya. Angka itu selalu menjadi alasan mereka mendesak agar kami segera menikah. Angka yang tak pernah kami perhitungkan karena terlampau sibuk mempertimbangkan berbagai keputusan dengan segala kemungkinan. Yang pada akhirnya menyerah saat harus memilih Jakarta atau Bantul.

“Mari tetap seperti ini sampai kita tahu keputusan apa yang tepat.” Begitu katanya setiap aku ragu.

Sepuluh tahun aku hidup di Jakarta. Mungkin akan lebih mudah bila aku memilih untuk menetap di sini. Tak seperti Aksa yang akan melepas karir dan orang tuanya sekaligus bila harus memutuskan ke Bantul. Aku bisa pindah ke mana saja tanpa harus melepas jabatanku, setinggi apa pun itu. Aku hanya akan melepas satu. Ibu. Tapi aku tak sampai hati melepas satu yang begitu berarti.

Kadang aku menyesal Aksa selalu berhasil meyakinkan Ibu. Mungkin akan lebih baik bila Aksa mengatakan yang sejujurnya sejak awal, bahwa ia tak bisa meninggalkan orang tuanya di Jakarta. Mungkin Ibu akan segera menentang hubunganku dengannya. Dengan begitu, kami sudah bisa berpisah sejak lama dan semua akan lebih mudah.

Aku merutuki diriku sendiri.

Mengapa harus menunggu hingga delapan tahun bila akhirnya memang harus berpisah? Mengapa harus memaksa memupuk tanaman yang bahkan tak akan tumbuh?