Photo by Tim Mossholder on Unsplash

 

Kos yang kutinggali saat ini sedang lengang. Dari tujuh penghuni di lantai dua, hanya aku yang memilih tinggal. Lima penghuni lain sudah sampai di rumah masing-masing, menikmati kebersamaan dengan keluarga di sana. Tadi siang, satu penghuni yang terakhir juga ikut pergi. Ia menyeret kopernya dan mengucapkan perpisahan seolah ia akan pergi lama. “Selamat liburan,” jawabku, menyadarkannya bahwa ia hanya liburan, bukan pergi selamanya. Detik itu juga, aku resmi menjadi penjaga kos. Ini kesempatan, batinku. Aku bisa menghadirkan Alana untuk menemaniku. Dia pasti bosan berada di tengah perayaan pergantian tahun di dunianya.

Malam itu, Alana, tokoh fiksi dalam cerpenku, benar-benar bisa kuhidupkan. Ia menemaniku di malam pergantian tahun baru. Lebih tepatnya, aku menghidupkannya untuk menemaniku. Kujanjikan padanya bahwa dia bisa tidur dengan tenang, tanpa gangguan petasan dan pertanyaan mengenai perayaan tahun baru. Ia setuju dan benar-benar hadir untuk membuktikan. Saat sudah benar-benar hadir, bukannya memelukku, dia justru melakukan protes. “Kenapa kamu harus membuatku hadir dalam cerita fiksimu tentang malam tahun baru? Kan aku tak suka perayaan. Aku ingin hadir di cerita lain yang tidak memuat perayaan sampah semacam itu,” gerutunya di kali pertama kami bertemu di dunia nyata. Aku tertawa mendengar protesnya. Dia protes seolah ia yang menentukan jalan cerita fiksiku. Mungkin dia masih terbawa emosi karena tidak bisa meluapkan segala protesnya pada Ibu. Jadi, kubiarkan dia protes sepuas hatinya, tidak perlu terlalu kutanggapi. Selesai dengan protesnya, dia menanyakan kembali tentang bagaimana caraku membuat malam itu damai tanpa perayaan.

“Bukan aku. Ada sesuatu di luar kendaliku yang membuat malam ini berjalan damai tanpa perayaan,” jawabku.

“Lalu, siapa yang membuatnya menjadi damai?” tanyanya kemudian sambil mengikat rambut sebahunya. Sebagai pencipta Alana, aku belum sampai membayangkan seberapa panjang rambutnya. Kini ia tunjukkan sendiri padaku, bagaimana seharusnya menggambarkan Alana. Ia ingin diceritakan sebagai Alana yang mampu mengikat rambut sebahunya dengan rapi bahkan tanpa bantuan sisir. Ia ingin menunjukkan bahwa ia sangat merawat rambutnya hingga sisir malu menyentuh rambutnya yang sudah halus. Sampo apapun berebut membelai rambutnya agar bisa menularkan kilau hitamnya pada rambut lain. Air tak akan mampu bertahan lama membasuh rambutnya, langsung meluncur tanpa hambatan. Selesai dengan urusan rambut, ia membuka lemari dan meraih cardigan rajut kesayanganku untuk ia kenakan lalu berkata, “Aku ingin berjalan-jalan untuk membuktikan kedamaian yang kamu janjikan. Di jalan, kau bisa ceritakan siapa yang membuat duniamu malam ini menjadi damai dan kenalkan aku dengannya. Aku ingin membawanya pulang ke duniaku.”

“Dia bukan seseorang yang bisa kau bawa untuk mendamaikan duniamu, Alana.”

“Kenapa?”

Kulepas cardigan rajut yang baru saja dia kenakan dan kusimpan lagi di dalam lemari. Dia tidak protes lalu duduk di kasurku. Seketika aku teringat, aku belum menyiapkan apapun untuk menyambut dia. Biar bagaimanapun, malam itu dia adalah tamuku, bukan tokoh fiksi dalam cerpen. Aku pergi ke dapur untuk merebus air dan menyeduh teh. Kucampur sedikit madu agar terasa manis memikat seperti senyumnya. Saat kembali ke kamar, dia sedang asik memandangi koleksi buku di lemari. Dia meraih satu buku bersampul putih. Aku ingat judulnya meski belum pernah kubaca. Membunuh Hantu-hantu Patriarki karya Dea Safira. Buku itu kubeli beberapa bulan lalu, sebelum aku pindah di kos baru ini. “Boleh kupinjam buku ini?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk lalu mempersilakan dia minum teh di meja depan.

Di meja depan, aku bercerita tentang virus yang menyebabkan duniaku malam itu damai tanpa perayaan. “Virus ini divisualisasikan bulat seperti bola dan memiliki paku di permukaan tubuhnya”, terangku agar ia bisa membayangkan seperti apa virus yang kuceritakan ini. Aku juga menceritakan bagaimana aku dan yang lain menjalani kehidupan yang begitu berjarak untuk menjaga satu sama lain. Tak lupa tentang bagaimana kami berjuang memutus rantai penularan dengan cara kami masing-masing. Tenaga kesehatan dengan perjuangannya mengenakan baju hazmat berjam-jam dan yang berjibaku siang malam melakukan test-tracing-treatment. Juga para relawan yang bersedia mempertaruhkan hidupnya untuk membantu dan memberi semangat kepada pasien di gedung isolasi. Para ilmuwan dengan upayanya mempelajari pembiakan virus ini untuk dapat menciptakan vaksin bagi semua. Tak lupa semua masyarakat yang berusaha menahan egonya dan bersedia untuk tetap tak kemana-mana. Dia mendengarkan tanpa memotong satu kalimatpun. Entah diam mengerti atau tak mau mengerti. Kurasa dia cukup cerdas untuk mengerti sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi di hidupnya.

“Semoga duniamu cepat membaik dan kedamaian seperti ini juga dapat berlanjut meski virus yang kamu ceritakan itu telah lenyap.” jawabnya kemudian. Rupanya dia diam untuk memastikan ceritaku telah benar-benar selesai. “Jangan coba-coba membawa virus ini ke dalam cerita fiksimu yang melibatkan aku! Aku tidak mau bertemu dengannya.”