Photo by David Werbrouck on Unsplash
aku tak tahu bagaimana manusia seharusnya bertindak
apakah kita harus saling menuruti demi membahagiakan satu sama lain
ataukah mesti memegang teguh prinsip sendiri tanpa peduli kata orang
tapi rupanya tak bisa sesaklek itu
bagiku, manusia sungguh kelabu
dia begitu terjal dan tak terkira
terkadang bisa dilajukan dengan kencang di jalan lurus beraspal
terkadang membuat kita terseok-seok di jalan berbatu
terkadang justru membawa kita pada jalan buntu berpagar tinggi
yang lebih menyulitkan
bahwa seringkali justru membawa kita ke persimpangan
yang memaksa kita untuk memilih dan mengambil resiko
entah baik ataupun tidak
mungkin, ada baiknya aku turuti saja kemauan semua orang
dengan begitu aku kan terlihat yang terbaik
dengan segala kebaikan semu untuk membentengi diri
tapi rupanya tak semudah itu pula tuk jadi baik
karena semua semu,
ada kalanya aku bosan dan muak
pada diri sendiri
dan memutuskan untuk melepas segala topeng
menghamparkan apa adanya aku dengan segala konsekuensi yang harus diterima
dicaci, dimaki, dikucilkan, atau bahkan benar-benar dibenci dan dihindari
ku rasakan sakit dan rasa berdosa yang teramat besar
sampai pada saat dimana aku menyadari
bahwa mungkin kita perlu kembali ke tengah
memegang prinsip sendiri dengan tetap menghargai pandangan orang lain
membahagiakan tanpa perlu menuntut dibahagiakan
menuruti tanpa menghakimi diri sendiri
dan membuka diri untuk segala luka yang kan tergores
tak apa
luka itu akan segera sembuh
oleh manusia baru yang lebih baik
sebab mungkin, manusia butuh luka tuk menikmati proses
menjadi baik dan lebih baik lagi
dan sekali lagi ku sadari, jadi baik tak akan semenyenangkan itu
tapi mungkin tak apa
sebab sampai detik ini
setidaknya aku masih sadar
bahwa aku akan selalu bisa melakukan kesalahan



