Photo by Maria Teneva on Unsplash

 

Hujan selalu mampu membawa cerita. Meski tak pernah ada kisah menarik antara kita dan hujan, cerita ini selalu saja tentangmu. Setiap bunyi dari rintikan air hujan adalah sebuah senandung merdu yang kau nyanyikan. Tapi, antara rintik dan senandung merdu tak pernah jadi suatu hal. Rasanya ada sesuatu yang mengguyur semua itu. Sesuatu yang entah apa.

Pernah kukatakan ini padamu, berharap kau mampu menolong menerangkan kiranya guyuran apa itu. Aku ingat betul, kau menjawab, “Yang kutahu, aku hanya ingin bersamamu.” Kala itu aku hanya mengangguk.

Keesokan harinya, aku menanyakan kembali, kebersamaan apa yang kau inginkan. Cukup lama untukmu mengucap jawab.

“Kebersamaan yang seperti ini.”

Aku tidak puas akan jawaban itu.

“Seperti ini bagaimana?” tanyaku lagi sedikit menuntut.

Kau menggeleng tidak tahu. “Aku hanya ingin bersama denganmu. Tidakkah itu cukup?”

Tidak cukup, batinku.

Aku ingin sebuah jawaban yang bukan hanya, melainkan sesuatu lain untuk menerangkan sesuatu yang mengguyurku setiap kali denganmu. Berulang kali kutanyakan, kau selalu berhenti pada kata hanya. Itu selalu tidak cukup dalam logika siapa pun. Kebersamaan kita seharusnya tak pernah berhenti pada kata hanya. Bukankah begitu?