Photo by Geetanjal Khanna on Unsplash

 

LANGIT dengan tulus membiarkan bintang tetap bersinar di antara mendung. Kala mendung berubah rintik, ia dengan senang hati mengantar bintang menuju kamarku. Dengan sok tahunya, dia berkata, “kutitipkan bintang untuk menemanimu, supaya kamu tidak takut mendengar hujan yang sebentar lagi akan semakin deras.” Padahal, sudah berulang kali kukatakan, aku tak pernah takut hujan sederas apa pun. Aku bersedia menikmati hujan entah itu rintik atau guyur deras.

Langit nampaknya tak pernah benar-benar mendengar hal itu. Ia sudah terlalu banyak urusan di atas sana. Kupikir, tak ada salahnya mengapresiasi kepedulian langit yang telah menghadirkan bintang ini dengan tidak menggerutu. Lagi pula, bintang dan hujan yang hadir di satu waktu tidak terlalu buruk. Entah mantra apa yang dibuat bintang ini. Kehadirannya justru membuat hujan terdengar semakin syahdu.

Tunggu dulu. Ada baiknya kuberi dia nama agar aku lebih mudah menyebutnya. Tapi kemudian aku membatalkan rencana itu. Untuk apa repot-repot memberinya nama? Ia bisa diambil langit kapan pun langit selesai dengan tugasnya bersama hujan. Kuputuskan untuk membiarkannya terang, menggantikan lampu gantung yang sengaja kumatikan. Ia tersenyum, begitu pun aku. Kuharap hujan lama menahan langit di atas sana.