Photo by Toby Christopher on Unsplash

Langit sudah mulai gelap saat aku keluar dari gedung kantor. Jam di tanganku menunjukkan pukul 17.35. Aku tak menyangka, bekerja dengan tumpukan berkas bisa membuatku pulang sesore ini. Awalnya, kupikir, berurusan dengan tumpukan berkas bisa kuselesaikan dalam sekejap mata. Siapa sangka kertas bisa membuat manusia begitu sibuknya.

Tadinya, aku ingin memesan ojek. Melihat langit sore yang begitu menyenangkan, aku mengurungkannya. Kuputuskan untuk berjalan kaki saja.

Kususuri jalanan kota metropolitan yang semakin gelap menjadi semakin ramai. Mobil dan motor melaju kencang, tak peduli kehidupan lain di tepian jalan. Bagi mereka, pejalan kaki sepertiku adalah anomali yang kehadirannya tak dibutuhkan sama sekali. Tapi aku suka menjadi bagian dari anomali. Tidak menjadi bagian dari kebanyakan membuatku lebih hidup dan menikmati diriku sendiri. Menjadi anomali memberiku kesempatan untuk lebih banyak mengamati.

Kusempatkan berhenti sejenak, di atas jembatan penyeberangan orang (JPO), tepat di atas halte bus. Berada di antara dua arus, aku memandang ke arah barat. Mereka yang berkendara ke arah barat tak peduli pada pengendara yang ke arah timur, begitu pun sebaliknya. Meski bersisian dan sangat mungkin untuk saling memandang, mereka tetap tak peduli. Tujuan mereka ada di depan, yang bersisian tidaklah penting. Lihat ke depan atau kau akan terjatuh, kata Sang Jalan. Aku berbalik, memandang ke arah timur. Dua ratus meter dari tempatku berdiri, ada titik putar arah. Di titik itulah, mereka yang memutuskan berganti arus, dipaksa memandang yang lain. Jika tidak, nyawa mereka menjadi taruhan.

Mungkin, begitu pula hidup semestinya berjalan. Bergerak di satu arus, saling menyalip, dan tak memedulikan yang lain. Saat jalan di depan tak lagi bisa dikejar, mesti berbelok mencari jalan pintas. Kala jalan pintas membuat putus asa, ada baiknya berganti arus. Namun, berbalik arus bukanlah sesuatu yang mudah. Berbalik arus berarti harus rela menunggu hingga diberi jalan. Klakson menuntut tak akan berarti apa-apa. Bagi pengendara arus lama, memberi jalan bagi pengendara arus baru sama saja menambah hambatan perjalanan di hadapan mereka. Semakin banyak hambatan di depan, semakin lama pula mereka sampai ke tujuan.

Aku jadi bertanya-tanya: mengapa manusia dituntut untuk memiliki tujuan? Untuk apa? Membesarkan ambisi? Lalu, seberapa banyak ambisi itu harus diberi makan? Sampai batas mana sebuah ambisi mencapai garis akhir?

Aku memandang ke langit. Ambisi itu sebenarnya apa?, tanyaku padanya. Tidak ada jawab, tentu saja. Bahkan awan tak bergerak sedikit pun. Mungkin aku juga anomali bagi langit. Tidak penting dan segala pertanyaanku tidak berarti banyak baginya.

Aku melanjutkan berjalan lagi. Aku masih harus berjalan sejauh satu kilometer untuk bisa sampai tujuan. Sejenak kemudian, tanganku sudah memegang gagang pintu. Aku sudah sampai tujuan. Bahkan tanpa ambisi, aku bisa sampai tujuan, meski memakan waktu lebih panjang.

Sebelum tidur, aku meraih jurnalku dan mulai menulis.

Di seratus hari keduaku, kota ini mengajarkanku cara berjalan. Berjalan yang sesungguhnya, yang menikmati setiap langkah tanpa tergesa. Satu, dua, tiga, dan berhenti sejenak, lalu empat, lima, dan seterusnya. Selangkah demi selangkah, hingga sampai di titik terlelah.