Photo by Joel Lee on Unsplash

Agustus, Memaknai Merdeka (28)

Ia adalah sebuah nama
di tengah ramai, Ia berceloteh
memantik sebuah api untuk besar
lalu ia pergi, hilang, ditelan diri sendiri
sedetik kemudian, Ia datang lagi
dengan segenggam korek yang baru
namun sang api terlanjur padam

Ia adalah sebuah nama
lagi-lagi Ia berceloteh memantik api
kali ini dengan yang baru
kala membesar, Ia menguap
memadamkan api yang belum terlampau besar

Ia adalah sebuah nama
mengacuh pada tanah yang saksi
atas timbul tenggelamnya gelora
untuk sekadar memuaskan hati