Di gedung megah itu,
wakil kami
duduk dengan nyaman,
memikirkan nasib kami
Temboknya kokoh,
teriakan kami, tak sedikit pun
mengganggu mereka
Tidak! Wakil kami
tak boleh diganggu!
Semua demi masa depan kami!
Suatu waktu, teriakan kami
menusuk masuk hingga ke jantung
singgasana mereka
Itu tak boleh!
wakil kami, tak boleh
terganggu oleh teriakan kami
Mereka harus mencari tempat baru
yang lebih nyaman, dan kami
sedang terlalu rewel, dan merepotkan
Kami ingin tahu,
kami turut ke singgasana baru itu
menjadi saksi, betapa mereka
bekerja keras untuk kami
Lalu, mereka sebut kami ‘tidak dikenal’
Lalu, di tempat lain,
mereka kirimkan kepala babi
dari yang ‘tidak dikenal’
Lalu, siapakah kami?



