Photo by Altınay Dinç on Unsplash

 

Laptop kubiarkan terbuka dalam keadaan tidak menyala. Di layarnya yang hitam mengkilat, aku dapat melihat bulan sedang menatapku lembut. Aku tersenyum dan ingin sekali memeluknya. Belum selesai hasratku untuk memeluk, aku mendengar suara yang teramat lembut. Tak pernah kutemukan suara selembut itu di manapun sebelumnya. Nikmati perjalananmu dan sadarilah saat kau siap.

Hello, have a nice day. La~ lalalalalalalalalala …

Aku terkesiap. Sesuatu bergetar di balik punggungku. Tanganku meraba dan meraihnya. Kusentuh sembarangan. Getar dan bunyinya berhenti seketika. Layarnya menunjukkan pukul 06.00. Langit dari jendela di sebelah tempat tidurku masih sayup tapi suara di bawah sudah gaduh. Aku menguap lebar. Meski masih enggan beranjak dari tempat tidur, aku tetap harus pergi dan mengikuti kegaduhan kota pagi ini. Senin pagi di kota ini selalu gaduh. Menjadi hening dan menikmati kegaduhan di kota ini adalah yang paling menyenangkan.

Rasa nyaman yang kurasakan saat menjadi hening di tengah jalanan kota penuh makian para manusia yang mengejar waktu mungkin memang sesuatu yang aneh. Katanya, semua hal di kota ini berjalan terlalu cepat hingga terlewat begitu saja. Tapi aku tak pernah melewatkan satu halpun yang kutemui. Kunikmati bunyi klakson kendaraan yang menuntut dibukakan jalan. Kuterima setiap makian yang tertangkap pendengaranku. Kurasakan udara yang menyesakkan masuk melalui penciumanku. Udara yang sempat membuatku tak nyaman ini rupanya telah berkawan denganku. Aku sudah tak begitu peduli sekotor apa udara yang setiap hari kuhirup ini. Yang katanya sudah melebihi titik wajar dan tak kutahu persis apa maksudnya. Organ pernapasanku sudah cukup mengerti bahwa tak ada pilihan lain. Apakah mungkin untuk memasok udara yang lebih bersih dari kota lain? Membungkusnya dengan berkantong-kantong plastik untuk persediaan, mungkin. Entahlah, tapi sepertinya mustahil dan tidak masuk akal. Terlebih, kantong plastik bekasnya yang kemudian dibuang justru menumpuk di pinggiran kota, tak tahu akan diapakan, yang bahkan bisa meledak dan membunuh ratusan jiwa. Anggap saja aku sudah tak begitu peduli dengan urusan udara kotor itu. Aku sudah cukup berdamai dengannya dan menyadari itu sudah cukup bagiku.

Selalu kuperhatikan ojek online (ojol) yang kutumpangi setiap harinya. Yang kunaiki saat ini termasuk yang paling sering. Tapi tipe motornya berbeda. Bukan Shogun biru seperti biasanya. Jok motor yang ini juga tidak senyaman biasanya, lebih licin menurutku. Tipe jok motor yang digemari para remaja belasan tahun untuk mengantar-jemput pacarnya. Entah bagaimana Bapak ojol ini tahu keherananku, tiba-tiba ia berkata, “Motor yang biasanya sedang dipakai anak saya bekerja.” Ah, begitu rupanya. Aku tak bertanya lebih. Kalimat itu sudah cukup menutupi rasa penasaranku. Sesampainya di kantor, aku mulai menyesal tidak bertanya lebih pada Bapak tadi. Mungkin saja aku bisa menggali apa pekerjaan anaknya. Atau, motor siapa yang dipakainya sekarang. Ah, sudahlah. Lagi pula itu tidak penting dan sama sekali bukan urusanku. Biarkan kehidupannya menjadi miliknya sendiri.

Aku bergegas menuju meja kerjaku. Beberapa kali kusapa teman kerja yang berpapasan atau bahkan bertemu di lift. Kalau boleh jujur, aku lebih suka tak bertemu siapapun. Andai ada jalan tersembunyi yang bisa langsung menuju meja kerjaku, aku pasti memilih untuk lewat jalan itu saja. Aku mendengus menyadari kesalahanku yang selalu datang pada jam ramai. Sejak lima belas menit sebelum masuk kerja, lift selalu penuh. Meski gedung ini berisi ratusan pegawai dari perusahaan yang berbeda, bertemu dengan teman kerja tetap menjadi hal yang biasa. Mungkin sudah menjadi budaya pegawai sekantorku untuk masuk pada lima belas menit sebelum pukul 8. Dasar para pemalas.

Pekerjaanku di lantai lima gedung bisnis ini tidaklah menarik. Hanya mengurusi berkas-berkas perusahaan yang tak benar-benar kumengerti apa maksudnya. Aku bukan tipe pekerja keras yang mencintai pekerjaan. Kurasa, bahkan sepuluh tahun kemudian aku tetap tidak akan tertarik dengan tumpukan kertas ini. Aku bahkan tak habis pikir, setiap harinya selalu ada kertas yang bertumpuk dan akhirnya terbuang. Berapa banyak lagi kayu ditebang untuk melayani ribuan perusahaan yang bahkan tak pernah belajar menggunakan kertas dengan bijak? Di bawah meja kerjaku, ada setumpuk kertas bekas yang kusimpan. Entah berguna atau tidak di kemudian hari, aku selalu saja menumpuk kertas bekas di situ. Entahlah, seperti ada perasaan bersalah setiap kali menghancurkan kertas yang bahkan baru digunakan beberapa menit hanya karena kesalahan ketik yang tidak terlalu substansial. Aku selalu kesal mendapati coretan di setiap pekerjaanku. Entah penting atau tidak, selalu saja ada coretan. Lebih kesal lagi setiap melihat tumpukan kertas di bawah mejaku semakin tinggi.

Rasanya aku muak menjalani keseharian seperti ini. Entah akan sampai kapan aku bersama berkas-berkas bodoh ini. Mungkin dua atau tiga tahun lagi setelah aku dapat pekerjaan yang lebih menyenangkan. Aku tak akan banyak menceritakan pekerjaanku yang sangat membosankan ini. Aku hanya perlu menunggu sampai sore dan aku akan kembali menikmati jalanan Jakarta.

Sebenarnya menyenangkan atau tidaknya pekerjaanku di kota besar ini tak pernah jadi masalah. Seratus hari di sini sudah banyak mengubah suasana hatiku. Entah bagaimana aku mendeskripsikannya. Setiap harinya seperti terlepas tiap helai rambutku. Seratus helai telah tercecer di setiap sudut jalan yang kulalui. Ringan. Sebegitu beratkah rambut di kepalaku ini hingga setiap helai yang jatuh begitu membuatku lega? Aku penasaran, sampai berapa lama hingga rambutku benar-benar hilang. Kurasa saat itulah aku bisa kembali tegak merasakan setiap embus kehidupan yang langsung masuk ke dalam pori-pori kepalaku.

Aku kembali teringat mimpiku tadi. Nikmati perjalananmu dan sadarilah saat kau siap. Apa maksud dari kalimat itu? Apa itu suara sang bulan?