Photo by Murray Campbell on Unsplash

Biar kuceritakan satu hal. Sejujurnya aku mulai bosan melakukan semua ini. Terutama karena benda itu terus bergerak bersama jarum-jarumnya yang entah kenapa tak pernah tumpul. Di setiap detak, ia menertawakan kehidupan dan segala yang mengalir bersamanya.

Tik tok tik tok…

Kurasa sekarang sudah waktunya ia berhenti dan menyudahi kesombongannya. Mari sudahi semuanya. Hidupnya telah usai dan aku yang akan mengakhirinya.

Tepat saat mataku berada tepat di titik pusat tempat ia berdetak, ia berhenti. Oh, kalah juga kau rupanya, batinku.

“Kalah? Kurasa itu kata yang cocok untukmu,” jawabnya.

Oh, tak hanya berdetak. Kau sudah mulai pandai berbicara rupanya.

“Kau ingin aku mengakhiri hidupku bukan? Kau ingin aku berhenti berdetak, seperti ini?”

Ya. Eh, tidak. Aku ingin kau berhenti berdetak dan berhenti berbicara. Aku ingin kau berhenti mempermainkan kehidupan.

Ia pun tertawa. “Mempermainkan kehidupan katamu? Manusia memang sangat lucu. Kau katakan aku mempermainkan kehidupan saat kau sebenarnya tahu bahwa kaulah yang telah mempermainkan hidupmu sendiri. Bukankah begitu?”

Omong kosong apa lagi ini. Selain berdetak dan pandai berbicara, rupanya ia juga penuh dengan omong kosong.

“Katakanlah kau berhasil membuatku mati, apa dunia ini akan berubah?”

Tentu.

“Apa kau pikir Tuhan begitu bodoh menciptakan dunia yang bisa kau mainkan tanpa detak waktu?”

Tentu saja Tuhan tidak bodoh. Kaulah yang bodoh.

“Bukan manusia jika tak mengakui kebodohannya sendiri.”

Apa katamu?

“Sudahlah, sudahlah. Akhiri saja hidupku. Aku sudah muak.”

Saat itu juga, aku membunuhnya. Kupenggal dua logam berbentuk tabung di belakang tubuhnya.

Kau pikir kau bisa hidup tanpa ini, hah? Waktumu telah habis. Kau telah usai, wahai jam dinding yang penuh omong kosong.