Photo by Jens Herrndorff on Unsplash
Semua manusia berkumpul di kota ini. Yang muda, ingin menata masa depan yang katanya akan lebih cerah. Yang tua, mungkin hanya ingin melanjutkan hidup. Setidaknya, Mereka ingin hidup dengan kata ‘cukup’, meski rasanya tak pernah terasa cukup.
Mungkin cukup untuk memaksa kedua mata terbangun lebih awal, mengalahkan kokokan ayam yang entah di kampung mana. Mungkin cukup untuk menopang kaki yang harus terus bergerak mencari penghidupan. Mungkin cukup untuk menguatkan raga yang harus berdesakan di tengah jutaan manusia tak kenal lelah. Jika ini yang dimaksudkan dengan kata cukup, Mereka sudah mendapatkan lebih dari cukup itu.
Desakan yang dimaksudkan di atas bukan seperti antrian anak muda di depan pintu konser. Bukan. Desakan yang Mereka pahami itu tak hanya terjadi di satu titik. Lihatlah kereta yang melintas dari segala penjuru. Adakah kau temui kosong di pagi dan sore hari? Desakannya tak kalah mengerikan dari jalanan kota yang penuh bising kendaraan dan caci maki. Manusia yang berimpitan di setiap bus kota. Mobil yang tak sudi memberi celah. Motor yang dengan santainya serobot sana-sini. Truk muatan yang harus segera ti Mereka semua punya tujuan yang sama. Mencari penghidupan yang sering macet di tengah desakan kemacetan.
Macet?
Sebentar. Ada yang janggal.
Di saat Mereka yang mencari kata ‘cukup’ itu terpaksa berdesakan di tengah macet, ada segelintir manusia yang ingin terbang dan terhindar dari itu semua. Nampaknya, Kaum Ini memang perlu Mereka prioritaskan. Bahkan, ibu mereka iba dengan Kaum Ini. Maka, biar Mereka saja yang mengalami segala bentuk kemacetan. Kaum Ini, jangan. Kehadirannya sungguh berdampak signifikan bagi bangsa dan negara. Kaum Ini yang akan mengatasi segala masalah kehidupan yang hanya berhenti pada kata cukup. Ya, meski kata cukup itu sendiri memang disematkan secara serampangan.
Tetap saja. Untuk Kaum Ini yang terhormat, segala pundi yang tak seberapa dan dirasa ‘cukup’ itu akan dengan rela diberikan oleh Mereka. Semua itu semata agar Kaum Ini mendapatkan kenyamanan setinggi-tingginya. Toh Mereka tak pernah tahu apa arti rela dalam kehidupan yang serba memaksa ini.
Jaya selalu untuk Kaum Ini. Biar Mereka saja yang mengerti kata macet.



