Photo by Laura Kapfer on Unsplash

 

Dua ribu dua puluh dua sudah berada di ujung hidupnya. Ia ditinggalkan dengan suka cita dan berjuta perayaan di berbagai belahan dunia. Saya pun merayakannya dengan melihat kembali daftar buku yang sudah dibaca di tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, buku-buku sastra mendominasi bacaan saya.

Setiap buku pasti memiliki rasanya masing-masing. Ada yang membuat geli seperti Animal Farm milik George Orwell atau kumpulan cerpen Mochtar Lubis berjudul Perempuan yang sekaligus membuat saya menilik kembali sisi ke-manusia-an. Ada yang bikin garuk-garuk kepala saking susahnya dimengerti seperti Estetika Hitam karya Goenawan Mohamad. Ada yang menyebabkan serangan jantung (nggak segitunya sih) seperti The Cruelty, novel karya Scott Bergstrom. Ada yang menguji keimanan seperti Humanisme dan Sesudahnya tulisan F. Budi Hardiman.

Nah, kalau yang paling berkesan, saya memilih lima buku yang mengaduk-aduk perasaan.

 

Senja di Jakarta

Senja di Jakarta pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita, khususnya para pecinta sastra. Novel karya Mochtar Lubis ini bercerita tentang kehidupan politik dan kondisi sosial di Jakarta pada masa 1950-an. Novel ini layak dibaca oleh siapa pun karena masih sangat relate dengan kondisi yang terjadi saat ini.

Husin Limbara dan Raden Kaslan menjadi tokoh sentral yang melakukan persekongkolan politis sekaligus bisnis dengan mendirikan perusahaan impor bodong untuk menampung uang-uang haram partai dan membiayai ongkos yang diperlukan untuk memperkuat barisan. Persekongkolan diperkuat dengan kehadiran Halim yang melancarkan serangan melalui media massa kepada kelompok oposisi dan memberikan dukungan terselubung kepada partai Husin Limbara di setiap artikel yang diterbitkan. Sugeng, si pegawai negeri yang terpaksa memberikan izin-izin bodong demi rumah baru untuk istri dan calon bayinya, juga turut melanggengkan persekongkolan yang mereka buat.

Di sisi lain, diceritakan pula kemiskinan yang dialami masyarakat kalangan bawah dalam sesi LAPORAN KOTA, dengan segala duka yang seakan mendarah daging. Kemiskinan yang seakan-akan malah terus direbus oleh para elit, sehingga kemelaratan menjadi sesuatu yang matang dan siap disantap di meja para pemegang kuasa itu.

Diceritakan pula sekelompok anak muda kelas menengah yang meluangkan waktu khusus untuk mendiskusikan kondisi sosial dan politik yang semakin miris di negeri mereka. Meski menyadari banyak kebobrokan negerinya, mereka toh tak melakukan apa pun.

 

1984

Novel karya George Orwell ini membuat saya jatuh cinta. Kisah yang disajikan di dalamnya memberikan imajinasi liar bagi pembaca.

Bung Besar mengawasimu. Ia ada dimana-mana, melalui kamera dan penyadap di berbagai sudut kota. Kau tak akan dibiarkan bebas berpikir dengan otakmu sendiri. Ikuti semua yang sudah dirancang oleh pemerintah, maka hidupmu akan aman! Bahasa pun sudah diatur oleh pemerintah, melalui para pegawai negeri yang selalu siap memperbaharui kamus besar berbahasa. Kosakata dipersempit dan makna dibakukan, sehingga kau tak memiliki ruang untuk mengendalikan pikiranmu sendiri. Setiap ucap dan gerak yang kau pilih akan tercatat. Setiap perbedaan dan penyelewengan dari ketetapan akan menjadi kejahatan pikir. Polisi Pikir bergerilya dimana-mana, mengawasi setiap pikiran yang condong pada pemberontakan.

 

Keep the Aspidistra Flying

George Orwell lagi. Memang secinta itu saya dengan tulisan sastrawan Inggris ini. Penulis mendeskripsikan kemiskinan dengan menarik. Saya suka bagaimana dia bercerita dengan satirnya mengenai dunia kapitalis. Sangat dekat dengan kehidupan masa kini yang serba cuan, cuan, dan cuan. Mau tidak mau, ya tetap cuan.

Keep the Aspidistra Flying bercerita tentang perjalanan Gordon Comstock membenci uang dan segala hal yang berkaitan dengan itu. Selain menjadi penjaga perpustakaan, ia adalah seorang penyair yang telah menerbitkan satu buku dan bisa dibilang tidak terkenal. Ia berkawan dengan Ravelston –si kaya pemilik penerbitan sosialis– yang baik hati dan lembut. Sahabatnya itu sesekali memberi kesempatan kepada puisi Gordon untuk diterbitkan. Sungguh tak sulit rasanya untuk jatuh cinta dengan si Ravelston ini.

Comstock sendiri, rasanya saya sebal-sebal gimana gitu. Love-hate relationship, kalau kata anak sekarang sih. Memang kebencian Gordon terhadap uang yang seakan mengungkung kehidupan manusia itu ada benarnya dan mungkin banyak orang ingin mengambil jalan itu. Tapi kan sulit sekali ya, di tengah gempuran keadaan realita dari sana sini. Kalau nekat, mungkin memang akhirnya menjadi seperti si Comstock ini. Keteguhan prinsipnya membuat ia terjun ke dalam jurang, tenggelam dalam ke bawah tanah, dan bahkan hampir membuatnya mati. Meski mengaku membenci uang, sepertinya Comstock tidak begitu nyaman dengan keadaan serba kekurangan uang itu. Terbukti dari permasalahan uang yang selalu ia besar-besarkan, baik di antara kehidupan persahabatannya dengan Ravelston maupun romansanya dengan Rosemary.

 

Amba

Laksmi Pamuntjak, lewat bukunya berjudul Amba, mengajarkan saya tentang jeda untuk lebih mendalami suatu hal. Tentang apa yang terjadi di Res Publica (sekarang Universitas Trisakti), tentang apa itu tempat pemanfaatan (tefaat) Buru, tentang adanya unit-unit yang diberi angka romawi, tentang apa yang terjadi di Madiun, hingga tentang Amba dalam cerita wayang. Saya suka interaksi Amba bersama Bapak, seorang yang begitu yakin bahwa Amba akan menjalani nasibnya sendiri, tidak bergantung pada lakon yang dikisahkan pada pewayangan. Saya suka Salwa, seorang pencinta yang baik dan tulus. Saya suka Bhisma, seorang dokter yang tampan dan kharismatik. Penulis dengan apik membuat kharismanya terasa nyata. Meski begitu, ada banyak hal yang pantas diperdebatkan mengenai segala hal yang diucapkan dan dilakukan oleh Bhisma, termasuk pilihannya mati di Buru saat ia sebenarnya bisa memilih untuk tidak mati di sana. Tentu saja, saya suka Amba, tokoh sentral dengan karakternya yang begitu kuat.

Buku ini tentang perjalanan Amba menemukan kembali masa lalunya. Kita dibawa kembali ke masa Amba bertemu Salwa dan Bhisma, hingga kehilangan keduanya di sebuah peristiwa yang berkaitan dengan sejarah kelam bangsa Indonesia. Berpisah dengan keduanya, ia menikah dengan Adalhard dan memiliki anak, yang bukan milik Adalhard, dan Adalhard tahu itu. Suatu hari, setelah Adalhard menikah, ia menerima surel dari seorang anonim bahwa Bhisma sudah meninggal. Amba pergi mencari jejak Bhisma di Pulau Buru, bersama Zulfikar yang merupakan teman Bhisma di tefaat dan Samuel –seorang Ambon yang mungkin juga mengenal Bhisma.

Perjalanan mereka berakhir pada Manalisa yang menyerahkan surat-surat Bhisma. Di surat inilah perjalanan hidup Bhisma dikisahkan. Tentang ia yang mengatakan Buru tak seburuk yang diceritakan umum, meski bisa jadi merupakan sebuah penolakan atas kepedihannya hingga mati. Tentang teman-temannya yang akhirnya bisa membawa anak istrinya ke Buru –menghindari pengucilan sebagai mantan tapol apabila kembali ke kampung halaman– sedang Bhisma menetap hingga memutuskan mati. (Baca ulasan selengkapnya)

 

Perempuan di Titik Nol

Buku karya Nawal el-Sadaawi ini bercerita tentang Firdaus dengan dunianya yang menjanjikan pelacuran sebagai sumber penghidupan. Isi di dalamnya sarat akan perlawanan terhadap marginalisasi peran perempuan pada masa itu. Perempuan yang tak diberi pilihan, yang dijadikan tak lebih dari budak napsu bagi laki-laki. Kelamnya kehidupan yang dijalani Firdaus menjadikannya perempuan tangguh, kuat, dan berprinsip. Ia yang memilih siapa yang mendekatinya dan berapa ia harus dibayar. Hingga pada situasi dimana ia masuk penjara atas tuduhan pembunuhan dan terancam dihukum mati, ia tetap memilih untuk hidupnya. Ia memilih untuk diam, tidak menolak hukuman, dan tak mau dikunjungi siapa pun. Ia lebih suka mati karena kejahatannya sendiri daripada mati karena kejahatan lelaki.

Saya suka cara penulis menyajikan cerita dengan runut. Meski jalan ceritanya tak mudah ditebak, penulis tetap berkisah dalam alur logika yang pas dan masuk akal. Bagi para perempuan, bacaan ini mungkin akan memberikan dorongan mental yang kuat di tengah kehidupan yang kadang mengesampingkan peran perempuan atau justru menuntut berlebihan dengan berbagai standar ganda yang tercipta. (Baca ulasan selengkapnya)

 

Selamat membaca.