Photo by Alistair MacRobert on Unsplash
Ia datang lagi, dari sebuah dunia fiksi yang kubentuk sendiri. Katanya, ia hanya ingin menepi dari ingar bingar manusia di dunianya. Pergi ke duniaku memang bukan pilihan yang tepat, karena yang ia inginkan tak lagi ada di sini. Di sini, ia juga akan menemukan ingar bingar yang sama.
Kondisi sekarang sudah tak sama dengan saat ia datang pertama kali. Kala itu, saat aku dengan sengaja menghadirkannya ke sini, hari-hari memang terasa sunyi. Semua orang tampak menikmati hidupnya di bawah atap masing-masing. Kata ‘menikmati’ rasanya bukan ungkapan yang tepat untuk menjelaskan kondisi tersebut. Tapi, anggaplah begitu. Toh kita lebih suka mengamati hal-hal yang terlihat baik bukan?
“Kota sudah kembali normal, Alana. Tak ada beda di sini atau di duniamu,” kataku.
“Kalau begitu, bisakah kau temani aku dulu? Setidaknya untuk malam ini. Aku malas kembali ke sana.”
Sebenarnya aku sudah punya janji dengan temanku. Tapi, menolak permintaannya juga bukan pilihan yang bagus. Ternyata begini rasanya memikul tanggung jawab akan kehadiran yang pernah dengan sengaja kau buat.
“Mau kubuatkan kisah yang membuatmu nyaman di duniamu sana?”
“Tidak perlu. Satu kerikil di jalan setapak tak lantas membuat tanah menjadi berbatu. Biarkan mereka bahagia menikmati itu semua. Keadaan mereka mungkin tak akan sama bila kondisi dunia juga berubah.”
“Jadi, kau mau apa di sini?”
Ia diam sejenak, mengamati buku yang berserakan di rak.
“Kau punya buku tentang dunia modern?” tanyanya, mengambil buku-buku yang rebah.
“Dunia modern?” tanyaku kebingungan.
“Kau ingat Kina?” tanyanya kemudian.
Aku mengangguk. Kina adalah tokoh buatanku. Tetangga Alana yang suka merayakan banyak hal. Sejak berduet menjadi pembawa acara dadakan di kampung, mereka jadi sering terlihat bersama.
“Dia pindah rumah, ke kota seberang. Penggantinya adalah sepasang pasutri muda dengan bocah bawel usia 5 tahun bernama Alif.”
Tokoh baru lagi, pikirku.
Alana mulai bercerita. “Seminggu lalu, bocah itu bertanya padaku,
“Kak Ayana, dunia modern itu apa?” tanya bocah bertubuh agak gempal yang tak bisa mengucapkan nama Alana dengan benar. Pertanyaan tersebut dilontarkan sekonyong-koyong dari atas sepeda mungil berwarna merah bergaris hitam, saat melintas di depan rumah Alana.
“Dunia modern itu dunia baru yang serba canggih. Canggih teknologinya, juga manusianya,” jawab Alana yang sedang mengisi token listrik tepat di sebelah kiri pintu rumahnya.
“Emangnya …,” ucapnya menggantung, teralihkan oleh bunyi tit tit tit yang timbul dari setiap tombol angka yang Alana tekan. Mendengar itu, Alif langsung melepas stang sepeda di tangannya sembarangan dan berlari ke arah Alana. “Sini aku bantu, Kak,” ucapnya kegirangan sambil berlompatan dan mendongak ke alat meteran listrik.
Alana terdiam sejenak hingga meteran listrik di depannya berbunyi dan menampilkan tulisan GAGAL.
Ish, bocah ini, batinnya kesal.
Alif mengangkat kedua tangannya, minta diangkat agar tubuhnya bisa mencapai meteran listrik. Alana enggan menuruti kemauan Alif. Ia justru mengarahkan dagu dan matanya ke kursi plastik di dekat taman depan. Alif mengerti dan berlari ke arah taman. Dengan susah payah, ia mengangkat kursi tersebut di depan badannya. Baru beberapa detik, ia melepas kursi merah dengan sandaran plastik itu. Tak habis akal, ia menarik kursi sampai hadapan Alana, tepat di bawah meteran listrik.
Setelah berhasil menaiki kursi yang ditariknya tadi, ia menoleh ke arah Alana yang sekarang berada di sebelah kanannya. “Pencet yang mana, Kak?”
Alana menunjuk angka yang harus ditekan Alif. Anak bersambut ikal itu kegirangan, menekan satu per satu tombol sesuai arahan Alana sambil melompat-lompat hingga hampir terjatuh.
bEnAr.
Alif mengeja tulisan di layar meteran dan meringis girang. Token listrik rumah Alana sudah terisi.
Alif turun dari kursi dan melanjutkan pertanyaannya yang sempat terputus. “Emangnya kalo udah canggih kenapa, Kak?” tanyanya kemudian. “Eh, tapi, canggih itu apa sih, Kak?”, tanyanya lagi sambil mendongak ke arah Alana.
“Canggih itu …”
Alana tak melanjutkan kalimatnya. Aduh, apa ya?, batinnya. Ia tak tahu bagaimana mengartikan kata canggih itu sendiri. Baginya, canggih ya canggih. Lalu, ia merogoh tas, mengambil ponsel dan mencari arti kata ‘canggih’.
canggih
banyak cakap; bawel; cerewet
Ah, ini sih deskripsi buat bocah kriwil ini.
suka mengganggu (ribut)
Ini juga deskripsi buat si bocah gendut ini.
tidak dalam keadaan wajar, murni, atau asli
tek kehilangan kesederhaan yang asli
Aduh, bagaimana juga menjelaskannya? Pasti dia nanya lagi, sederhana itu apa.
“Canggih itu … bagus, serba cepat … wuusshh gitu,” jawab Alana ngasal, sambil menggerakkan tangannya naik secara diagonal seperti menerbangkan pesawat.
“Kayak motor, wuuusshhh gitu ya, Kak?” tanyanya lagi, meniru gerakan Alana.
“Iya, iya, iya. Motor juga termasuk alat canggih,” tanggapnya senang karena Alif tak bertanya macam-macam lagi.
Memang dasar Alif dengan jiwa kecilnya yang polos dan serba ingin tahu, ia tak puas dengan jawaban tersebut. Ada pertanyaan susulan yang timbul di benaknya.
Alif menoleh dan menunjuk sepedanya yang diparkir di depan halaman.
“Sepedaku itu nggak canggih dong, Kak?”
Alana mengangguk.
“Memangnya kenapa harus canggih, Kak?” tanya Alif lagi.
Kali ini Alana tak bingung. Ia bisa menjawabnya dengan mudah.
“Biar kalau ngapa-ngapain bisa cepat. Naik motor kan biar cepat sampai ke tujuan.”
“Tapi, kata Mama, aku nggak boleh cepat-cepat kalau naik sepeda. Berarti aku nggak boleh modern dong, Kak?” bantahnya.
Bukan gitu konsepnya, batinnya kesal.
Tak mendapat jawaban, Alif mencecarnya dengan pertanyaan lagi. “Emangnya kenapa sih harus cepat-cepat, Kak? Emang kerjaannya manusia banyak banget ya? Emangnya manusia sesibuk apa sih, Kak? Kok sampai harus ada dunia modern dan teknologi canggih yang cepat begitu?”
Alana kesal. Ingin sekali mencecar Alif dengan kalimat:
Aduh, kamu itu masih ingusan, belum tahu apa-apa. Belum pernah ketemu tuntutan kehidupan. Cuma tahu main, makan, tidur, repeat.
Tentu saja umpatan itu tak pernah terucap. Tak sampai hati ia menghujat rasa keingintahuan yang besar dari diri Alif yang masih bocah. Ia tak mau menjadi penyebab bungkamnya Alif di masa mendatang. Tapi ia juga tak mampu meladeni setiap pertanyaannya yang kadang memang tak pernah terpikirkan jawabannya.
Nah, jadi, begitu,” tutur Alana menutup cerita.
“Aku cari ide dulu ya. Kalau aku sudah dapat ide tentang itu, nanti aku tulis,” jawabku sekenanya.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 5 pagi dan aku ngantuk sekali. Aku menyuruhnya kembali ke dunianya. Ia menurut. Tersisa aku masih termenung menatap langit-langit kamar.
Memangnya dunia ini harus modern?
Tentang Alana :



