AKU kembali melihat Ayah mengenakan atribut itu. Seragam coklat lengkap dengan baju pelindung dan helm. Di tangannya, ia membawa perisai untuk menepis setiap benda yang dilemparkan ke arahnya. Aku lebih suka melihat Ayah mengenakan seragam coklat tua yang rapi dengan sabuk yang terlihat sangat pas melingkar di bawah perutnya. Tak seperti rekannya yang lain, perut Ayah tidak buncit karena ia selalu menjaga pola makan dan olahraga. Meski hampir memasuki usia lima puluh, Ayah tetap tampan. Badannya tegap layaknya polisi muda di usia awal tiga puluh. Tak ada lemak berlebih di tubuhnya.

Melihatnya berada di antara polisi muda lain yang dengan sigap menghalau massa selalu membuatku marah. Entah marah kepada siapa, aku juga tak bisa memilih. Aku marah pada para demonstran yang membuat Ayahku menjalankan tugas sulit. Karena mereka, tak jarang Ayah pulang dengan luka di beberapa bagian tubuhnya. Dan Ibu selalu menyambutnya dengan senyum seolah itu bukan hal yang serius. Mungkin ia sudah dapat memahami resiko pekerjaan Ayah. Tapi aku tidak bisa seperti Ibu. Aku selalu marah melihat Ayah disakiti. Namun, kemarahanku pada para demonstran itu selalu ditentang oleh hatiku. Memang benar mereka melempari Ayah dengan batu, kaleng, dan benda keras lainnya. Tapi, para demonstran itu hanya ingin menuntut haknya. Hak bersuara dan mendapat keadilan, sesuai dengan nilai dasar yang dipegang teguh di negeriku tercinta. Rasanya tak adil bila menyalahkan mereka. Apalagi fakta bahwa luka mereka tak berhenti pada fisik, namun juga batin dan dapat mematikan seluruh hidupnya. Kemudian, aku jadi marah pada Ayah. Kalau saja ia memilih pekerjaan lain yang lebih aman, pegawai kantor misalnya, ia tak mungkin mendapat kesakitan itu. Ia cukup duduk di depan komputer dari pagi sampai sore lalu pulang ke rumah membawa makan malam untuk kami. Bukankah yang begitu lebih menyenangkan daripada pulang membawa luka? Tapi tetap saja, ia adalah ayah hebat yang menjalankan tugasnya dengan baik. Dan pada akhirnya aku jadi marah pada diriku sendiri yang tak bisa menyikapi ini seperti halnya Ibu.

Yang paling benar adalah marah kepada angin karena telah membisikkan kata yang menyakiti hati rakyatnya. Tak peduli pada kulit mereka yang rentan, ia desirkan panas dalam bisikannya. Dan membuat mereka mati satu per satu, terbang tak berdaya seperti daun kering dikhianati pohonnya.